TUGAS
1. Bagaimana
Asing menguasai Pasar Strategis di Indonesia ?
Jawab :
Kebijakan
pemerintah justru sengaja dilahirkan untuk menarik perhatian investor asing
agar mereka mau masuk dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional.
kebijakan pemberian keringanan pajak yang disiapkan sebagai karpet merah bagi
investor asing yang bersedia menanamkan modalnya di tanah air. Jadi jangan
heran jika investor asing berbondong-bondong datang ke Indonesia dan meminta
pembebasan pajak. Masuknya investasi asing harus diakui memberikan kontribusi
bagi gerak perekonomian nasional. Kekayaan alam yang sangat besar dimanfaatkan
oleh perusahaan asing.
Dengan
berbagaii kemudahan dan daya tarik berupa kekayaan alam yang melimpah, asing
mulai menguasai sendiri-sendi atau sektor-sektor bisnis yang strategis di
Indonesia. Padahal, amanat UUD 1945 menyebutkan soal kemandirian dan ketahanan
ekonomi. Kondisi ini mengundang keprihatinan masyarakat. Tidak hanya pelaku
ekonomi nasional, tapi juga politisi, akademisi, hingga pejabat. Dominasi asing
semakin kuat pada sektor-sektor strategis, seperti keuangan, energi dan sumber
daya mineral, telekomunikasi, serta perkebunan. Dengan dominasi asing seperti
itu, perekonomian sering kali terkesan tersandera oleh kepentingan mereka.
2. Apa
yang harus dilakukan oleh indonesia dalam menghadapi Free Trade Area (MEA 2015)
?
Jawab
:
Beberapa
solusi bagi negara Indonesia yang ditawarkan untuk menghadapi MEA 2015 di
antaranya adalah :
a. Mengubah
‘mindset’ konsumtif menjadi produktif sehingga kita bisa mengurangi pengeluaran
dan memperbesar pemasukan bagi negara kita.
b. Meningkatkan ‘Competitiveness’ produk yang
akan berpengaruh pada ketertarikan konsumen akan produk yang kita hasilkan
dengan kualitas terjamin dan harga yang terjangkau.
c. Diversifikasi dan peningkatan nilai tambah
bahan baku dari sumber daya alam yang melimpah menjadi produk berorientasi
ekspor.
d. ‘Competitiveness’ sumber daya manusia karena
kunci dari kemajuan bangsa adalah bukan karena kekayaan alamnya melainkan SDM
yang ada di dalamnya.
e. Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi yang
mampu berkompetisi minimal di tingkat ASEAN (kedepan semua profesi harus
memiliki sertifikasi tingkat ASEAN) dan tiap tenaga profesional memiliki
semangat yang tinggi.
f.
Mengubah ‘mindset’ pegawai menjadi entrepreneur
(pengusaha) sehingga diharapkan akan muncul pengusaha-pengusaha baru yang dapat
menciptakan lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia secara
mandiri sehingga tidak bergantung terhadap negara lain.
3. Bagaimana
meningkatkan daya saing Ekonomi Indonesia ?
Jawab :
Pemberlakuan
MEA dapat dimaknai sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama
ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi
regional kawasan Asia Tenggara, yang ditandai dengan terjadinya arus bebas
(free flow): barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal. Ini juga akan
menjadikan kawasan ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif.
Kreativitas
akan menjadi aktivitas ekonomi mendatang, menggantikan fokus kini pada
informasi. Menurut sejarah, agrikultur, perindustrian, dan informasi adalah
merupakan hal yang dominan dalam aktivitas ekonomi manusia.
Membaiknya
daya saing Indonesia antara lain ditopang oleh pertumbuhan ekonomi nasional di
atas 5% per tahun sejak 2005. Di tengah melambatnya perekonomian global.
Peningkatan daya saing Indonesia juga banyak didorong oleh kemajuan pembangunan
infrastruktur. Meskipun infrastruktur kita masih banyak masalah, namun dalam
kurun waktu 5 tahun terakhir progresnya cepat, terutama infrastruktur konektivitas.
Juga ada beberapa fakta yang dikemukakan oleh McKinsey Global Institute [8]: Bahwa Indonesia hari ini menduduki kekuatan ekonomi peringkat 16 di dunia dan kuat kemungkinan akan duduk manis di peringkat tujuh ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030, dan Indonesia memiliki populasi anak muda yang tumbuh cepat di daerah urban, faktor ini memberi kekuatan tersendiri untuk meningkatkan pemasukan negara.
Fakta di atas tentu memberi peluang yang sangat besar bagi para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Namun hal tersebut juga bisa menjadi bumerang tatkala pemerintah Indonesia tidak menggenjot dan mendukung kegiatan ekonomi kreatif di Indonesia sehingga ditakutkan konsumen potensial ini akan dipikat oleh produk-produk kreatif dari luar negeri dan pada akhirnya kita hanya menjadi bangsa konsumen seperti yang kita alami selama ini.
Juga ada beberapa fakta yang dikemukakan oleh McKinsey Global Institute [8]: Bahwa Indonesia hari ini menduduki kekuatan ekonomi peringkat 16 di dunia dan kuat kemungkinan akan duduk manis di peringkat tujuh ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030, dan Indonesia memiliki populasi anak muda yang tumbuh cepat di daerah urban, faktor ini memberi kekuatan tersendiri untuk meningkatkan pemasukan negara.
Fakta di atas tentu memberi peluang yang sangat besar bagi para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Namun hal tersebut juga bisa menjadi bumerang tatkala pemerintah Indonesia tidak menggenjot dan mendukung kegiatan ekonomi kreatif di Indonesia sehingga ditakutkan konsumen potensial ini akan dipikat oleh produk-produk kreatif dari luar negeri dan pada akhirnya kita hanya menjadi bangsa konsumen seperti yang kita alami selama ini.
4. Bagaimana
menciptakan sinergi antar daerah yang maju dan tertinggal ?
Jawab :
Masalah
pembangunan daerah dalam perspektif nasional yang utama adalah bagaimana
mengurangi kesenjangan antar wilayah. Implisit di dalamnya adalah pengertian
untuk membangun daerah-daerah yang masih relatif tertinggal.
Strategi
pembangunan untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah pada dasarnya diarahkan
untuk :
a. mendorong
pertumbuhan wilayah-wilayah potensial di luar Jawa-Bali dan Sumatera dengan
tetap menjaga momentum pertumbuhan di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera;
b. meningkatkan
keterkaitan antarwilayah melalui peningkatan perdagangan antarpulau untuk
mendukung perekonomian domestik; dan
c. meningkatkan daya saing daerah melalui
pengembangan sektor-sektor unggulan di tiap wilayah,
d. Mendorong percepatan pembangunan daerah
tertinggal, kawasan strategis dan cepat tumbuh, kawasan perbatasan, kawasan
terdepan, kawasan terluar dan daerah rawan bencana; serta
e. Mendorong pengembangan wilayah laut dan
sektor-sektor kelautan.
5. Bagaimana
Investasi mempengaruhi Pertumbuhan Negara ?
Jawab :
Investasi
merupakan salah satu variabel yang penting dalam sebuah perekonomian. Ada
beberapa hal yang memengaruhi investasi, yaitu suku bunga, PDRB, utilitas,
birokrasi, kualitas SDM, regulasi, stabilitas politik dan keamanan serta faktor
sosial budaya. Hal ini menimbulkan implikasi kebijakan, yaitu penurunan suku
bunga, kebijakan fiskal, perbaikan sarana dan prasarana, perbaikan birokrasi
pemerintahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelonggaran regulasi,
kebijakan untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan, penguatan budaya
lokal.
·
Pertama, investasi mendorong pertambahan
pendapatan nasional (pertumbuhan ekonomi) secara berlipat ganda lewat proses multiplier.
Maksudnya jika ada investasi Rp. 100 trilyun – misalnya- maka pertambahan
pendapatan nasional akan lebih besar dari Rp. 100 trilyun.
·
Kedua, investasi juga akan mendorong
penciptaan lapangan kerja. Penciptaan lapangan kerja ini akan mengurangi
pengangguran. Berkurangnya pengangguran akan mengurangi kemiskinan. Dan
berkurangnya kemiskinan akan berdampak pada teratasinya masalah-masalah ikutan
lain seperti gizi buruk, buta huruf,kejahatan dan lain-lain.
·
Ketiga, investasi juga bisa dipakai
sebagai alat untuk pemerataan baik pemerataan antar daerah, antar sektor dan
antar perorangan. Investasi sebagai alat pemerataan ini tentu saja tidak bisa
dibiarkan berjalan sendiri atau dibiarkan berjalan menuruti mekanisme pasar
tetapi harus ada intervensi pemerintah. Misalnya saja pemerintah bertujuan
untuk memperkecil ketimpangan ekonomi antar dua daerah (daerah yang satu maju dan
yang satu tertinggal). Maka ketimpangan itu bisa diatasi salah satunya dengan
mengarahkan investasi ke daerah yang tertinggal. Caranya ada macam-macam,
misalnya memberi insentif pembebasan pajak bagi investor yang bersedia
berinvestasi di daerah yang tertinggal, mempermudah ijin investasi di daerah
tertinggal agar investor tertarik menanamkan modalnya di sana, dan banyak
kebijakan lain.
DAFTAR PUSTAKA
Sadono Sukirno, 1994, Pengantar Teori Ekonomi Makro, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar