BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LatarBelakang
Dalam definisi singkat, teamwork merupakan serangkaian nilai, sikap dan perilaku dalam sebuah tim. Sehingga tidak selalu terdiri dari sekumpulan orang dengan gaya, sikap, maupun cara kerja yang sama.
Perbedaan antar tim justru merupakan potensi yang akan membuat sebuah tim menjadi kreatif dan inovatif. Untuk mencapai kerjasama tim yang baik perlu ditumbuhkan sikap-sikap positif di antara anggota tim. Antara lain kebiasaan untuk saling mendengarkan sehingga tercipta komunikasi yang baik,
memberikan dukungan kepada anggota tim yang membutuhkan,
dan apresisasi terhadap kontribusi dan pencapaian yang
diperoleh dari setiap anggota tim. Sebuah team work akan menjadi penentu mulus tidaknya perjalanan organisasi. Sebab itu sangat diperlukan adanya kerjasama yang baik dalam melaksanakan tanggungjawab dalam keorganisasian.
Melalui kerjasama dan saling berbagi pengetahuan serta ketrampilan, sebuah tim seringkali mampu menyelesaikan tugas secara efektif, ketimbang dilakukan oleh seorang individu. “A team is a
group organized to work together to accomplish a set of objectives that cannot
be achieved effectively by individuals”. Tim boleh jadi merupakan kelompok kerja yang relative permanen, namun juga bias bersifat temporer yang bertugas untuk menyelesaikan sebuah proyek tertentu. Tim
yang relative permanen biasanya dinamakan “natural team
work”, sedangkan yang temporer banyak disebut sebagai “a
cross-functional action team” biasanya terdiri dari orang-orang dari berbagai bagian atau departemen. Bentuk tim yang dianggap
paling maju adalah
“self-directed”, karenanya tim semacam ini kurang memerlukan pengawasan, dan memiliki otoritas penuh dalam penyelesaian tugas-tugasnya. Agar
tim bias bekerja secara efektif dalam mengembangkan motivasi, kedekatan,
dan produktivitas,
banyak organisasi
yang memandang pembangunan tim merupakan salah satu aspek dari pengembangan organisasi.
Kelompok dan Tim adalah dua konsep berbeda. Kelompok atau groups
didefinisikan sebagai dua atau lebih individu yang saling bergantung dan bekerjasama, yang
secara bersama berupaya mencapai tujuan. Kelompok kerja (work groups)
adalah kelompok
yang para anggotanya saling berinteraksi terutama untuk saling berbagi informasi untuk membuat keputusan guna membantu satu sama lain dalam wilayah kewenangannya masing-masing. Kelompok kerja tidak memiliki kebutuhan atau pun kesempatan untuk terlibat di dalam kerja kolektif yang
memerlukan upaya gabungan dari seluruh anggota tim. Akibatnya, kinerja mereka sekedar kumpulan kontribusi parsial dari seluruh individu anggota kelompok. Tidak ada sinergi positif yang
menciptakan tingkat kinerja keseluruhan yang lebih besar ketimbang totalitas input yang
mereka berikan.
Sementara itu,
Tim Kerja mengembangkan sinergi positif melalui upaya yang
terkoordinasi. Upaya individual mereka menghasilkan suatu tingkat kinerja yang lebih besar ketimbang totalitas input para individunya.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan identifkasi masalah diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan diuraikan dalam makalah ini sebagai berikut :
- Pengertian Tim Kerja.
- Model keefektifan Tim kerja.
- Mengubah individu menjadi pemain Tim.
- Pengelolaan Tim Kerja.
1.3 Tujuan
Adapun Tujuan pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk memenuh itu gas mata kuliah Manajemen Mutu
2. Mengetahui definisi kepemimpinan
3. Untuk mengetahui Perbedaan kepemimpinan dan manajemen
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi
Kepemimpinan
Kepemimpinan
merupakan suatu konsep abstrak, tetapi hasilnya nyata. Kadangkala kepemimpinan
mengarah kepada seni, tetapi seringkali pula berkaitan dengan ilmu. Pada
kenyataannya, Kepemimpinan merupakan seni sekaligus ilmu.
Robbins (1991) mendefinisikan
kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok anggota agar
bekerja mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Schrieshim, et al. (dalam
Kreitner dan Knicki, 1992, p. 516) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses
pengaruh social dimana pemimpin mengupayakan partisipasi sukarela para bawahannya
dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Gibson et al. (1991, p.364) memberikan
definisi kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi motivasi atau
kompetensi individu-individu lainnya dalam suatu kelompok. Ketiga definisi
tersebut hanyalah sebagian dari definisi definisi yang ada. Sedangkan dalam
kaitannya dengan TQM, definisi yang diberikan oleh Goetsch dan Davis (1994, p.
192) adalah bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan untuk membangkitkan semangat
orang lain agar bersedia dan memiliki tanggung jawab total terhadap usaha
mencapai atau melampaui tujuan organisasi.
Definisi-definisi di atas pada hakikatnya
mengandung kesamaan, dimana konsep dasarnya berkaitan dengan penerapannya dalam
TQM, yaitu membangkitkan motivasi atau semangat orang lain, yaitu dengan jalan
memberikan inspirasi atau mengilhami. Konsep ini mengandung pengertian bahwa
motivasi-motivasi tersebut telah ada dalm diri tiap karyawan dan motivasi yang
ada tersebut bukanlah sekedar tanggapan temporer terhadap rangsangan eksternal.
Istilah manajer dan kepemimpinan tidaklah
perlu dicampuradukkan, karena kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari
manajemen. Manajer melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, pelaksanaan, komunikasi, dan pengawasan. Termasuk di dalam
fungsi-fungsi itu adalah perlunya memimpin dan mengarahkan.Secara umum seorang
pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakteristik berikut :
·
Tanggung jawab yang seimbang
Keseimbangan dalam hal ini adalah antara tanggung jawab
terhadap pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung jawab terhadap orang- orang
yang harus melaksanakan pekerjaan tersebut. Dengan kata lain seorang pemimpin
disamping memperhatikan bagaimana struktur tugas yang menjadi tanggung
jawabnya, juga harus memperhatikan para kondisi bawahannya.
·
Model peranan yang positif
Peranan
adalah tanggung jawab, perilaku, atau prestasi yang diharapkan dari seseorang
yang memiliki posisi khusus tertentu. Oleh karena itu seorang pemimpin yang
baik harus dapat dijadikan panutan atau contoh bagi para bawahannya..
·
Memiliki keterampilan komunikasi yang baik
Pemimpin
yang baik harus bisamenyampaikan ide-ide pemikirannya secara ringkas dan jelas,
serta dengan cara yang tepat.
·
Memiliki
pengaruh positif
Pemimpin
yang baik memiliki pengaruh terhadap bawahannya dan menggunakan pengaruhnya
tersebut untuk hal-hal yang positif. Pengaruh adalah seni menggunakan kekuasaan
untuk menggerakkan atau mngubah pandangan orang lain kearah suatu tujuan atau
sudut pandang tertentu.
·
Mempunyai
kemampuan menyakinkan orang lain
Pemimpin
yang sukses adalah pemimpin yang dapat menggunakan keterampilan berkomunikasi
dan pengaruhnya untuk meyakinkan orang lain dari sudut pandangnya serta
mengarahkan mereka pada tanggung jawab total terhadap sudut pandang tersebut.
Disamping memiliki karakteristik sebagaimana telah
dijelaskan, Bennis dan Nanus (1985), seorang pemimpin yang baik harus dapat
memainkan
peranan penting dalam melakukan tiga hal yaitu,(Bennis dan Nanus,1985),:
1.
Mengatasi
penolakan terhadap perubahan
Pemimpin mengatasi penolakan dengan
menciptakan komitmen total secara sukarela terhadap tujuan dan nilai-nilai
bersama.
2.
Menjadi
perantara bagi kebutuhan kelompok-kelompok di dalam dan diluar organisasi.
Bila terjadi konflik kepentingan
antara perusahaan dengan salah satu pemasoknya, maka pemimpin harus dapat
menemukan cara mengatasinya tanpa merugikan salah satu pihak.
3.
Membentuk
kerangka etis yang menjadi dasar operasi setiap karyawan dan perusahaan secara
keseluruhan.
Kerangka
etis dapat diwujudkan dengan cara:
·
Memberikan
contoh perilaku etis
·
Memilih
orang-orang yang berperilaku etis sebagai anggota tim
·
Mengkomunikasi
tujuan organisasi
·
Memperkuat
perilaku yang sesuai di dalam dan di luar organisasi
·
Menyampaikan
posisi-posisi etis secara internal dan eksternal
2.
Kepemimpinan
versus Manajemen
Kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari
manajemen. Meskipun demikian keduanya saling melengkapi. Beberapa perbedaan
antara manajemen dan kepemimpinan menurut Kotter (dalam Goetsch dan Davis,
1994) antara lain :
·
Manajemen berhubungan
dengan usaha menanggulangi perubahan.
·
Manajemen berkaitan
dengan perencanaan dan penganggaran untuk mengatasi kompleksitas ; kepemimpinan
mengenai penentuan arah perubahan melalui pembentukan visi.
·
Manajemen mengembangkan
kemampuan untuk melaksanakan rencana melalui pengorganisasian dan penyusunan
staf; kepemimpinan mengarahkan orang untuk bekerja berdasarkan visi.
·
Manajemen menjamin
pencapaian rencana melalui pengendalian dan pemecahan masalah;kepemimpinan
memotivasi dan mengilhami orang agar berusaha melaksanakan rencana.
Dalam
konteks TQM, manajer yang sukses adalah manajer yang dapat menggabungkan
karekteristik manajer dan pemimpin secara tepat. Berikut ini adalah
perbandingan anatara pemimpin dan manajer :
·
Manajer mengelola;
pemimpin melakukan inovasi
·
Mangers are copies;
leaders are original
·
Manajer memelihara;
pemimpin mengembangkan
·
Manajer berfokus pada
sistem dan struktur; pemimpin berfokus pada manusia
·
Manajer mengandalkan
pengendalian; pemimpin mengilhami
·
Manajer menggunakan
pandangan jangka pendek; pemimpin menggunakan jangka panjang
·
Manajer menekankan
aspek bagaimana dan kapan; pemimpin menekankan aspek apa dan mengapa
·
Manajer menerima status
quo; pemimpin menentangnya
·
Manajer melakukan
sesuatu dengan benar ( do things right); pemimpin melakukan sesuatu yang tepat
( do the right things)
3.
Kepemimpinan demi Tercapainya Kualitas
Dalam
perspektif TQM, kepemimpinan didasarkan pada filosofi bahwa pebaikan metode dan
proses kerja secara berkesinambungan akan dapat memperbaiki kualitas, biaya,
produktivitas, ROI, dan pada gilirannya juga meningkatkan daya saing. Filosofi
ini dikemukakan pertamakali oleh Deming yang menyatakan bahwa setiap perbaikan
metode dan proses kerja akan memberikan rangkaian hasil sebagai berikut :
·
Perbaikan kualitas
·
Penurunan biaya
·
Peningkatan
produktivitas
·
Penurunan harga
·
Peningkatan pangsa
pasar
·
Kelangsungan hidup yang
lebih lama dalam industri/bisnis
·
Lapangan kerja yang
lebih luas
·
Peningkatan ROI
Untuk
dapat mencapai filosofi tersebut dibutuhkan kepemimpinan yang berorientasi pada
peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Kepemimpinan seperti itu memiliki
beberapa karakteristik sebagai berikut (Ross, 1994, p. 34) :
1. Visible,
commited dan knowledgeable
Kepemimpinan
yang baik mengembangkan focus pada aspek kualitas, melibatkan setiap orang
dalam pendidikan dan pelatihan. Selain itu juga mengembangkan hubungan rutin
dengan para karyawan, pelanggan, dan pemasok.
2. Semangat
misionaris
Pemimpin
yang baik berusaha mempromosikan aspek kualitas di luar organisasi, baik
melalui pemasok, distributor, maupun pelanggan.
3. Target
yang agresif
Kepemimpinan
yang baik mengarah pada perbaikan yang bersifat incremental, tidak sekedar
memperbaiki proses tetapi juga mengupayakan proses-proses yang berbeda.
4. Strong
driver
Tujuan
yang ingin dicapai dalam aktivitas perbaikan ditetapkan manajerial dengan jelas
dalam ukuran kepuasan pelanggan dan kualitas.
5. Komunikasi
nilai-nilai
Kepemimpinan
yang baik melakukan perubahan budaya kearah budaya kualitas secara efektif. Hal
ini dilakukan dengan menyusun suatu sistem komunikasi yang jelas dan konsisten
melalui kebijakan tertulis, misi, pedoman dan pernyataan lainnya mengenai
nilai-nilai kualitas
6. Organisasi
Struktur
organisasi yang dimiliki adalah struktur datar (flat structure), yang
memungkinkan adanya wewenang yang lebih besar bagi level-level yang lebih
rendah. Setiap karyawan diberdayakan dan dilibatkan dalam tim-tim perbaikan
interderpatemental.
7. Kontak
dengan pelanggan
Para
pelanggan memiliki akses untuk menghubungi CEO dan para manajer senior
perusahaan.
Pada
dasarnya karakteristik diatas mengandung prinsip-prinsip yang sama dengan
prinsip-prinsip TQM (Scholtes dalam Goetsch dan Davis, 1994, pp. 197-199),
yaitu meliputi :
1. Fokus
pada pelanggan
Kepemimpinan
demi kualitas membutuhkan focus pada pelanggan. Hal ini berarti tujuan utama
organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu
cara yang memberikan nilai abadi (lasting value) kepada para pelanggan, baik pelanggan
internal maupun eksternal.
2. Obsesi
terhadap kualitas
obsesi
terhadap kualitas mengandung makna bahwa setiap karyawan secara agresif
berusaha mencapai kualitas dalam rangka melampaui harapan pelanggan internal
dan eksternal.
3. Pemahaman
mengenai struktur pekerjaan
Proses
pekerjaan perlu dianalisis untuk menentukan susunan structural yang tepat
(organisasi, urutan pekerjaan, alata yang digunakan , dan lain-lain). Bila
struktur optimum telah tercapai maka proses pekerjaan harus dianalisis,
dievaluasi, dan di pelajari terus-menerus dalam rangka menyempurnakannya.
4. Kebebasan
yang terkendali
Pengendalian
dalam pengertian TQM adalah pengendalian manusia terhadap metode dan proses
kerja.
5. Kesatuan tujuan
Seorang
pemimpin bertanggung jawab dalam menyampaikan misi organisasi secara jelas dan
seksama agar semua karyawan memahami, meyakini dan bertanggung jawab terhadap
misi tersebut.
6. Melacak
kesalahan dalam sistem
Diperlukan
perubahan dalm focus dan penekanan, dari penilaian kesalahan karena adanya
masalah menjadi penilaian sistem dalam rangka menemukan dan mengatasi masalah
yang berhubungan dengan sistem.
7. Kerja
sama tim
Prinsip
ini didasarkan pada keyakinan bahawa kerjasama tim akan dapat memberikan hasil
yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individual.
8. Pendidikan
dan pelatihan yang berkelanjutan
Dalam
era teknologi, mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah manusia.
Oleh karena itu belajar terus-menerus merupakan unsur yang fundamental dalam
TQM.
Sementara
itu Joseph M. Juran menyatakan bahwa kepemimpinan yang mengarah pada kualitas
meliputi 3 fungsimanajerial yaitu, perencanaan, pengendalian dan perbaikan
kualitas secara berkesinambungan.
1. Pernecanaan
Kualitas
Fungsi ini meliputi
langkah-langkah: identifikasi pelanggan, identifikasi kebutuhan pelanggan,
mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan pelanggan, mengembangkan metode dan
proses kerja yang dapat menghasilkan produk yang memenuhi atau melampaui
harapan pelanggan, dan mengubah hasil perencanaan kedalam tindakan.
2. Pengendalian
Kualitas
Fungsi ini mencakup
langkah-langkah; evaluasi kinerja actual, membandingkan kinerja actual dengan
tujuan, dan melakukan tindakan perbaikan untuk mengatasi perbedaan kinerja yang
ada.
3. Perbaikan
Kualitas
Fungsi ini terdiri atas langkah-langkah:
membentuk infrastruktur untuk memperbaiki kualitas secara berkesinambungan,
identifikasi proses atau metode yang membutuhkan perbaikan, membutuhkan tim
yang bertanggung jawab atas royek perbaikan tertentu, dan menyediakan
sumberdaya serta pelatihan yang dibutuhkan tim perbaikan tersebut agar dapat
mendiagnosis masalah dan mengidentifikasi peneyebabnya.
Dalam
pasar global yang kompetitif dan selalu berubah dengan cepat, setiap perusahaan
menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Untuk
melakukan penyesuaian diri tersebut seringkali dibutuhkan adanya perubahan.
Dalam kaitannya dengan cara menangani perubahan, manajer dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Driver,
yaitu manajer yang memimpin dengan pedoman dan arah baru sebagai tanggapan terhadap
perubahan. Driver bersifat proaktif dan memainkan peranan sebagai fasilisator
dalam membantu karyawan dan dan organisasi untuk beradaptasi terhadap perubahan
secara berkesinambungan.
2. Rider,
yaitu manajer yang hanya bereaksi bila terjadi perubahan.
3. Spoiler,
yaitu manajer yang secara aktif menolak perubahan.
4.
Gaya
Kepemimpinan
Gaya Kepemimpinan adalah suatu cara
yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya. Umumnya dikenal
lima macam gaya kepemimpinan yaitu otokratis, demokratis, partisipatif,
orientasi pada tujuan dan situsional.
1.
Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan Otokratis yaitu gaya kepemimpinan dimana
pimpinan banyak mempengaruhi atau menentukan prilaku para bawahannya. Seorang
pemimpin yang menganut gaya ini, menganggap bahwa semua kewajiban dalam
mengambil keputusan, menjalankan tindakan, mengarahkan, memberi motivasi dan
mengawasi bawahan terpusat ditangannya. Serta memutuskan bahwa dialah yang
berhak untuk memutuskan dan mempunyai perasaan bahwa bawahan tidak mampu dalam
mengarahkan diri mereka sendiri serta adanya alasan lain untuk beranggapan
mempunyai posisi yang kuat dalam mengarahkan serta mengawasi
pelaksanaanpekerjaan dengan maksud meminimumkan penyimpangan dari arah yang ia
berikan.
Kepemimpinan seperti ini cendrung memberikan perhatian
individual ketika memberikan pujian dan kritik, tetapi berusaha untuk lebih
bersikap impersonal dan berkawan dibandingkan dengan bermusuhan secara terbuka.
Ciri-cirinya:
a. Pimpinan mendikte teknik dan langkah
kegiatan bawahan dalam bekerja setiap hari.
b.
Pimpinan mengabaikan pendapat ataupun bawahannya (kelompok)
c.
Pimpinan mengambil keputusan sendiri
d.
Pimpinan kurang memperhatikan kepentingan dan
kesejahterahaan bawahan (kelompok)
e.
Menggunakan pendekatan ancaman apabila terjadi kesalahan
atau penyimpangan atau bawahan.
2.
Gaya Kepemimpinan
Demokratis
Gaya Kepemimpinan
Demokratis yaitu gaya
kepemimpinan yang banyak
menekankan pada partisipasi anggotanya dari pada kecendrungan pemimpin
untuk menentukan diri sendiri. Ia tidak
menggunakan wewenangnya untuk
membuat keputusan akhir
dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada
bawahannya, tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran darpara bawahannya mengenai keputusan
yang akan diambil. Pemimpin akan mendorong kemampuan mengambil keputusan dari
para bawahannya sehingga pikiran-pikiran mereka akan selalu meningkat dalam
menyampaikan pendapatnya. Para bawahan juga didorong agar meningkatkan
kemampuan dan mengendalikan diri serta menerima tanggung jawab yang besar.
Pemimpin akan lebih sportif dalam menerima masukan-masukan dari para
bawahannya, meskipun wewenang terakhir dalam keputusan terletak pada pimpinan.
Ciri-cirinya :
a. Pemimpin memberikan kesempatan pada
bawahan untuk menentukan cara penyelesaian pekerjaan.
b. Pemimpin mendengar pendapat, ide,
dan saran dari bawahan.
c. Pemimpin mengajak bawahan untuk
berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
d. Pemimpin sangat memperhatikan
kepentingan dan kesejahteraan bawahan.
e. Menindak para bawahan yang melanggar
disiplin organisasi dan etika kerja, pendekatan bersifat korektif dan edukatif.
3.
Kepemimpinan
Partisipatif
Kepemimpinan
partisipatif juga dikenal dengan istilah kepemimpinan terbuka, bebas atau
nondirective. Orang yang menganut pendekatan ini hanya sedikit memegang kendali
dalam proses pengambilan keputusan. Ia hanya menyajikan informasi mengenai
suatu permasalahan dan memberikan kesempatan kepada anggota timuntuk
mengembangkan strategi dan pemecahannya. Tugas pemimpin adalah mengarahkan tim
kepada tercapainya consensus. Asumsi yang mendasari gaya kepemimpinan ini
adalah bahwa para karyawan akan lebih siap menerima tanggung jawab terhadap
solusi, tujuan dan strategi dimana mereka diberdayakan untuk mengembangkannya.
4. Kepemimpinan
Berorientasi pada Tujuan
Gaya kepemimpinan ini juga disebut
kepemimpinan berdasarkan hasil atau berdasarkan sasaran. Orang yang menganut
pendekatan ini meminta anggota tim untuk memusatkan perhatiannya hanya pada
tujuan yang ada. Hanya strategi yang dapat menghasilkan kontribusi nyata dan
dapat diukur dalam mencapai tujuan organisasilah yang dibahas.
5. Kepemimpinan
Situasional
Gaya
kepemimpinan ini dikenal pula sebagai kepemimpinan tak tetap (fluid) atau
kontingensi. Asumsi yang digunakan dalam gaya ini adalah bahwa tidak ada satu
pun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap manajer dalam segala kondisi. Oleh
karena itu gaya kepemimpinan situsional akan menerapkan suatu gaya tertentu
berdasarkan pertimbangan atas factor-faktor seperti pemimpin, pengikut dan
situasi.
Gaya Kepemimpinan dalam Konteks TQM
Gaya kepemimpinan yang
tepat dalam konteks TQM adalah kepemimpinan partisipatif yang lebih tinggi
level/tingkatannya. Kepemimpinan partisipatif dalam pandangan tradisional
meliputi usaha mencari masukkan dari karyawan, sedangkan dalam pandangan TQM
meliputi upaya mencari masukkan dari karyawan yang diberdayakan,
mempertimbangkan masukan tersebut, dan bertindak berdasarkan masukkan itu.
Jadi, perbedaan utamanya adalah pemberdayaan karyawan.
Agar gaya kepemimpinan
partisipatif model TQM dapat diterapkan dengan baik, manajer harus didukung
oleh para bawahannya, di mana mereka respek terhadapnya dan bersedia
mengikutinya. Ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki seorang manajer
agar bawahannya dapat setia kepadanya. Karakteristik tersebut di antaranya
meliputi:
·
Rasa tanggung jawab
yang besar
·
Disiplin pribadi
·
Bersifat jujur
·
Memiliki kredibilitas
tinggi
·
Menggunakan akal sehat
(common sense), sehingga dapat menentukan kapan harus bersikap fleksibel dan kapan
harus bersikap fleksibel dan kapan harus bersikap tegas
·
Memiliki energi dan
stamina tinggi
·
Memegang teguh komitmen terhadap tujuan
organisasi,s etiap orang yang bekerja dengannya, dan terhadap pengembangan
pribadi dan profesionalnya secara berkesinambungan
·
Setia dan tabah dalam
menghadapi segala situasi, termasuk situasi yang paling sulit
Dalam
rangka membentuk keanakbuahan (followership), ada enam paradigma dalam
interaksi manusia yang harus diperhatikan. Melalui pemahaman ini maka dapat
dipilih suatu pendekatan yang paling tepat dalam menjalin hubungan antar
individu dalam suatu organisasi atau perusahaan. Keenam paradigm, menurut Covey
)1994, pp. 204-232), meliputi:
1.
Menang/Menang adalah
kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama di
dalam setiap interaksi manusia. Pendekatan ini berarti bahwa kesepakatan atau
solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik.
2.
Menang/Kalah adalah
pendekatan otoriter yang berpendapat bahwa “Saya mendapatkan apa yang saya
inginkan; Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan”. Orang yang
menang/kalah cenderung menggunakan jabatan, kekuasaan, mandate, atau
kepribadian untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.
3.
Kalah/Menang adalah
kerangka pikiran dan hati yang selalu menjadi pecundang, biasanya cepat
menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka tidak mempunyai
tuntutan, harapan, dan visi. Umumnya mereka mudah diintimidasi oleh kekuatan
ego orang lain, karena kurang memiliki keberanian untuk emngekspresikan
perasaan dan keyakinannya sendiri.
4.
Kalah/Kalah adalah
pendekatan yang terjadi bila kedua pihak yang berinteraksi bersifat keras
kepala, egois, dan ingin membalas dendam, yang hasilnya adalah keduanya
rugi/kalah, apa pun keputusan yang dihasilkan.
5.
Menang adalah suatu pendekatan yang menyatakan bahwa
‘Saya tidak menginginkan orang lain kalah, tetapi yang pasti saya ingi menang’.
Sikap yang dipegang adalah ‘Saya mengurus diri saya sendiri dan kamu urus
dirimu sendiri’.
6.
Menang/Menang atau
Tidak Ada Transaksi adalah pendekatan yang tidak menghasilkan solusi
sinergistik (solusi yang disepakati oleh kedua belah pihak). Ini berarti tidak
ada harapan dan kontrak kerja yang ditetapkan, karena masing-masing pihak
setuju untuk tidak melakukan kesepakatan.
Dari keenam paradigm
tersebut yang paling tepat untuk membentuk dan mempertahankan pengikut (anak
buah) adalah pendekatan menang/menang, karena dalam pendekatan ini kedua pihak
bekerja sama untuk menemukan solusi yang terbaik. Paradigma ini sesuai pula
dengan gaya kepemimpinan partisipatif model TQM.
5.
KERJA
SAMA TIM: KARAKTERISTIK DAN MANFAAT
Kerja sama tim
merupakan salah satu unsure fundamental dalam TQM. Tim merupakan sekolompok
orang yang memiliki tuan bersama. Faktor-faktor yang mendasari perlunya
dibentuk tim-tim tertentu dalam suatu perusahaan adalah:
·
Pemikiran dari 2 orang
atau lebih cenderung lebih baik daripada pemikiran satu orang saja.
·
Konsep sinergi
[1+1>2], yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) jauh lebih baik daripada jumlah
bagiannya (anggota individual).
·
Anggota tim dapat
saling mengenal dan saling percaya, sehingga mereka dapat saling membantu.
·
Kerja sama tim dapat
menyebabkan komunikasi terbina dengan baik.
Tidak semua
kumpulan orang dapat dikatakan tim. Untuk dapat dianggap sebagai tim maka
sekumpulan orang tertentu harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Ada kesepakatan terhadap misi tim
Agar suatu kelompok dapat menjadi
tim dan supaya tim tersebut dapat bekerja dengan efektif, semua anggotanya
harus memahami dan menyepakati misinya.
2. Semua
anggota mentaati peraturan tim yang berlaku.
Suatu tim harus mempunyai peraturan
yang berlaku, sehingga dapat membentuk kerangka usaha pencapaian misi. Suatu
kelompok atau grup dapat menjadi tim manakala ada kesepakatan terhadap misi dan
ketaatan terhadap peraturan yang berlaku.
3. Ada
pembagian tanggung jawab dan wewenang yang adil.
Keberadaan tim tidak meniadakan
struktur dan wewenang. Tim dapat berjalan dengan baik apabila tanggung jawab
dan wewenang dibagi dans etiap anggota diperlakukan secara adil.
4. Orang
beradaptasi terhadap perubahan.
Dalam TQM, perubahan bukan saja tak
terelakkan tetapi juga diperlukan sekali. Sayangnya, orang umumnya menolak
perubahan.
Faktor-faktor
Penghambat Kesuksesan KerjaSama Tim
Teamwork
bukan hanya aktivitas menyatukan orang, lalu memberitahu apa yang harus
dia lakukan. Tim tidak akan berjalan lancar jika dalam tim terdapat
anggapan seperti ini. Terdapat
faktor-faktor penghambat kesuksesan tim, antara lain :
1.
Identitas pribadi anggota, anggota tidak sepenuh hati
meleburkan diri dalam team dikarenakan masih mencoba-coba cocok atau tidak
cocok keberadaannya dalam team.
- Hubungan antar anggota team, dimana anggota tim yang kurang saling mengenal
- Ada anggota yang kurang memiliki motivasi juang sehingga ada anggota team yang berjuang bagi kemajuan organisasi sementara yang tidak memiliki motivasi tersebut, sehingga menimbulkan ketimpangan. Salah satu tantangan berat yang sering dihadapi pimpinan adalah bagaimana ia dapat menggerakkan para anggotanya agar senantiasa mau dan bersedia mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk kepentingan organisasi.
- Menentang : mengeritik, menyalahkan orang lain, menunjukkan sikap menentang kelompok atau perorangan, dan merendahkan orang lain.
- Menghalangi kemajuan anggota kelompok dalam mencapai sasarannya
- Berusaha mendominasi di dalam kelompok
- Berperilaku pasif, bersikap masa bodoh, tak peduli terhadap situasi kelompok
Kunci
Keberhasilan dan Kerjasama Tim
Pembentukan suatu tim tidak dengan
sendirinya akan berjalan sebagaiman yang diharapkan. Untuk itu diperlukan usaha
mengatasi factor-faktor yang dapat menghambat kesuksesan kerjasama tim dan
dibutuhkan pula berbagai upaya agar tim dapat mencapai misi dan tujuan
pembentuknya.
King
(dalam Goetsch dan Davis, 1994, pp. 218-219) menganjurkan 10 strategi yang ia
sebut Ten Team Commandments untuk meningkatkan kinerja suatu tim dalam rangka
pencapaian tujuan organisasi. Kesepuluh Strategi tersebut adalah :
1. Saling Ketergantungan
Saling
ketergantungan diperlukan diantara para anggota tim dalam hal informasi, sumber
daya, pelaksanaan tugas, dan dukungan. Adanya saling ketergantungan dapat
memperkuat kebersamaan tim.
2. Perluasan Tugas
Setiap
tim harus diberi tantangan, karena reaksi atau tanggapan terhadap tantangan
tersebut akan membentuk semangat persastuan (esprit de corps), kebanggan dan
kesatuan tim.
3. Penjajaran (alignment)
Anggota
tim harus bersedia menyingkirkan sikap individualnya dalam rangka mencapai misi
bersama.
4. Bahasa yang Umum
Pemimpin
tim harus mengusahakan penggunaan bahasa yang umum, karena biasanya angggota
tim berasal dari departement yang berbeda dan memiliki istilah kata
sendiri-sendiri.
5. Kepercayaan/Respek
Dibuthkan
waktu dan usaha untuk membentuk kepercayaan dan respek agar setiap anggota tim
dapat bekerja sama.
6. Kemimpinan/keanekaragaman yang
dibagi Rata
Pemimpin
yang baik harus dapat memperhatikan bakat tertentu setiap anggota tim, sehingga
kemimpinan dan keanakbuahan dapat dibagi bersama.
7. Keterampilan pemecahan masalah
Tim
harus banyak menggunakan waktunya untuk membina kemampuan anggotanya dalam
memecahkan masalah,karena masalah merupakan hal yang selalu dihadapi setiap
organisasi.
8. Keterampilan Menangani konfrontasi/konflik
Dalam
lingkungan kkerja yang high pressure dan kompetitif, konflik merupakan hal yang
tidak terelakkan. Oleh sebab itu, dalam TQS dibutuhkan keterampilan menerima
perbedaan pendapat (ide, masalah, dan pemecahan masalah) dan menyampaikan
ketidak setujuan terhadap orang lain tanpa harus menyakiti hati orang yang
bersangkutan.
9. Penilaian/tindakan
Penilai
dilakukan dengan memantau dsn membandingkan apa yang telah dilakukan dengan
pernyataan misi dan rencana tindakan yang ada.
10. Perayaan.
Penghargaan
dan pengakuan atas tugas yang terlaksana dengan baik akan memotivasi anggota
tim untuk bekerja lebih giat dan tegas dalam rangka mencapai tujuan berikutnya.
6.
PENGERTIAN DAN PROSES KOMUNIKASI
Dalam
setiap perusahaan, komunikasi memegang peranan penting dalam menunjang
kelancaran segala aktivitasnya. Komunikasi berfungsi untuk beberapa tujuan
yaitu untuk pengendalian, motivasi, ekspresi perasaan dn informasi. Komunikasi
bisa berupa komunikasi verbal maupun nonverbal. Komunikasi nonverbal biasanya dilakukan
melalui beberapa cara, seperti ekspresi wajah, gerakkan tubuh tertentu,
intonasi suara serta jarak antara individu dalam percakapan.
Komunikasi dapat diartikan sebagai usaha untuk
menyampaikan maksud tertentu kepada oranglain sehingga orang tersebut dapat
memahami maksuda yang disampaikan. Atau dapat pula diartikan sebagai suatu
proses penyampaian makna (meaning) dari pengirim kepada penerima, dengan
menggunakan media tertentu. Umumnya proses komunikasi dapat dijelaskan seperti
Gambar 6-1. Dalam gambar tesebut dapat terlihat bahwa proses komunikasi melalui
bebeapa tahapan yang menghubungkan antara pengirim pesan dan penerima. Kualitas
suatu proses komunikasi ditentukan oleh seberapa jauh pemahaman penerima
terhadap pesan yang diterimanya. Proses decoding dan encoding dipengaruhi oleh
sikap, pengetahuan (tingkat pendidikan), keterampilan dan sistem sosiokultural
yang dianut penerima dan pengirim.
Komunikasi dapat bersifat vertikal dan lateral.
Komunikasi vertikal dapat berlangsung dari atasan ke bawahan (downward) maupun
dari bawahan ke atasan (upward). Sedangkan komunikasi lateral merupakan
komunikasi antar unit-unit atau kelompok yang berada dlam satu level yang sama.
Jaringan komunikasi ada 2 jenis, yaitu jaringan komunikasi formal dan informal.
Jaringan komunikasi formal terbentuk karena adanya struktur organisasi formal
perusahaan yang menggambarkan rantai komando pada perusahaan yang bersangkutan.
Jaringan komunikasi formal ini berhubungan dengan pemberian wewenang terhadap
suatu pekerjaan dan pelaporan hasil pekerjaannya. Jaringan komunikasi informal
biasanya berupa informasi yang tidak pasti, misalnya berupa desas-desus atau
isu.
Dalam proses komunikasi sering kali dijumpai beberapa
macam hambatan. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya berupa:
·
Filtering,
dimana pengirim memodifikasi informasi yang akan disampaikan. Ia hanya akan
menyampaikan informasi yang sesuai dengan minat dan kehendak penerima
·
Selective perception, yaitu penerima hanya mau mendengar informasi yang ingin ia dengar. Penentuan
jenis informasi yang diinginkan tergantung pada kebutuhan, sikap, minat, dna
pengharapannya.
·
Perbedaan bahasa
·
Keadaan emosi
pengirim dan penerima
Sarana komunikasi adalah saluran serta mekanisme yang
dipergunakan untuk menyalurkan tanda-tanda. Penerima menerima tanda yang
dikirimkan dan menerjemahkannya menjadi sesuatu yang bermakna bagi dirinya.
Bila tanda tersebut membingungkan dan tidak jelas, serta maknanya tidak sama
bagi pengirim dan penerima berita, maka komunikasi yang di lakukan tidak berjalan.
Sarana untuk komunikasi mengenai kualitas dalam sistem TQM agar dapat efektif
antara lain meliputi:
1.
Pelatihan dan
pengembangan para manajer dan karyawan
Manajer harus
memahami proses-proses yang mereka kelola dan konsep dasar optimalisasi sistem.
Pelatihan karyawan harus berfokus pada pemanfaatan alat-alat statistik dan
metode pemecahan masalah secara menyeluruh dan tepat.
2.
Patisipasi setiap
orang pada setiap level dalam pembentuk patok duga dan ukuran-ukuran kualitas
proses. Hal ini dilaksanakan dengan melibatkan karyawan biak secara vertikal
maupun horizontal dalam hirarki organisasi.
3.
Pemberdayaan para
karyawan dengan mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan yang
berkaitan dengan perbaikan kualitas dalam bidang yang menjadi tanggungjawabnya.
4.
Jaminan kualitas
dalam seluruh proses organisasi
5.
Sistem manajemen
sumber daya manusia yang memberi kemudahan bagi kontribusi semua orang dalam
setiap level dalam struktur organisasi.
2.7
MANAJEMEN KONFLIK
Robbins (dalam kreitner dan Kinicki, 1992,
p. 375) mendefenisikan konflik sebagai segala bentuk oposisi atau
interaksi yang bersifat antagonis, yang dikarenakan kelangkaan kekuasaan
(power), sumber daya atau posisi sosial, dan sistem nilai yang berbeda. Dengan
kata lain, konflik dapat pula dirumuskan sebagai ketidaksetujuan antara dua
atau lebih anggota organisasi atau kelompok-kelompok dalam organisasi yang
timbul karena mereka harus menggunakan sumber daya yang yang langka secara
bersama-sama atau menjalankan kegiatan bersama-sama dan atau karena mereka
memiliki status, tujuan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda. Anggota-anggota
organisasi yang mengalami ketidaksepakatan tersebut berusaha menjelaskan duduk
persoalan dari sudut pandang mereka masing-masing. Berdasarkan pihak-pihak yang
saling bertentanga, ada lima jenis konflik dalam kehidupan organisasi, yaitu:
1.
Konflik dalam diri
individu
Konflik jenis ini
terjadi jika seorang individu menghadapi ketidakpastian mengenai pekerjaan yang
ia harapkan untuk dilaksanakan, jika berbagai permintaan pekerjaan saling
bertentangan, atau jika individu diharapkan untuk melakukan lebih dari
kemampuannya.
2.
Konflik antar
individu dalam organisasi yang sama
Konflik jenis ini
sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian dan konflik antar
peranan (misalnya antara manajer dan karyawan)
3.
Konflik antara
individu dan kelompok
Konflik ini
berhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang
dipaksakan oleh kelompok kerjanya. Misalnya seorang individu diasingkan oleh
kelompok kerjanya karena melanggar norma-norma kelompok
4.
Konflik antar
kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini terjadi
karena adanya pertentangan kepentingan antar kelompok dalam organisasi yang
sama.
5.
Konflik antar
organisasi
Konflik jenis ini
timbul karena adanya bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu
negara. Biasanya konflik ini mengarah pada timbulnya produk baru, jasa,
teknologi baru, harga yang lebih murah, dan pemanfaatan sumber daya yang lebih
efisien.
Perlu disadari bahwa konflik berbeda dengan persaingan.
Dalam persaingan pihak-pihak yang terlibat tidak bisa mencapai tujuan secara
serentak, dan merea juga tidak bisa saling mengganggu. Misalnya, dua orang
manajer pernjualan berusaha untuk bekerja lebih baik dan menjadi pihak yang
pertama kali bisa mencapai kuota penjualan. Bila ada kesempatn untuk mengganggu
dan jika kesempatan itu digunakan, maka yang timbul adalah konflik.
Pandangan terhadap konflik dalam organisasi telah
mengalami perkembangan dari masa ke masa. Ada tiga pandangan terhadap konflik
yang timbul dalam organisasi, yaitu pandangan tradisional, pandangan perilaku,
dan pandangan interaksionis.
1.
Pandangan
Tradisional
Pandangan
tradisional tentang konflik menyatakan bahwa konflik merupakan sesuatu yang
buruk, tidak di inginkan, dan berbahaya bagi suatu organisasi. Penganut
pandangan ini berpendapat bahwa timbulnya konflik menunjukan adanya sesuatu
yang salah dalam organisasi. Oleh karena itu bila kesalah tersebut dapat
dibetulkan, maka semua fungsi dalam organisasi akna bisa terintegrasi dengan
baik. Tugas manajemen dalam pandangan ini adalah menghilangkan konflik.
2.
Pandangan perilaku
Pandangan perilaku
beranggapan bahwa konflik merupakan peristiwa yang sering terjadi dalam
kehidupan organisasi. Anggota-anggota suatu organisasi sangat beraneka ragam
dan masing-masing bersifat unuk serta memiliki kepentingan sendiri-sendiri dan
kadang-kadang dapat saling bertentangan. Para penganut pandangan ini menyatakan
bahwa konflik bisa bersifat fungsional (memberi manfaat) maupun dysfunctional
(merugikan). Meskipun demikian sebagian besar dari penganut pendapat ini
menganggap bahwa konflik umumnya bersifat dysfunctional atau merugikan
organisasi.
3.
Pandangan
interaksionis
Pandangan terbaru
ini berpendapat bahwa konflik dalam organisasi merupakan hal yang tidak
terhindak dan bahkan diperlukan. Meskipun konflik sering merugikan, tetapi
tidak bisa dipungkiri bahwa konflik sering pula membuat organisasi dapat
beroperasi secara lebih efektif. Ada perbedaan mendasar antara pandangan ini
dengan pandangan perilaku. Pandangan perilaku mengupayakan sedapat mungkin
untuk menghilangkan konflik setiap kali timbul. Sedangkan pandangan
interaksionis berkeyakinan bahwa konflik bukanlah hal yang harus dihilangkan
semuanya, tetapi harus dikelola. Pandangan interaksionis berusaha meminimumkan
aspek-aspek yang merugikan dan memaksimumkan aspek-aspek yang menguntungkan.
Konflik Fungsional dan Dysfunctional
Pandangan interaksionis tidak
menganggap semua konflik merupakan konflik yang baik. Ada konflik yang
mendukung tercapainya tujuan dari kelompok dan kemungkinan akan meningkatkan
kinerja. Konflik seperti ini adalah konflik fungsional yang bersifat
konstruktif. Konflik jenis ini dapat memberikan segi-segi positif seperti
(Coser, 1950; dalam Reksohadiprodjo dan Handoko, 1991, p. 235)
1.
Konfik dalam:
·
Pergantian pimpinan
yang lebih berwibawa, penuh ide dan semangat baru.
·
Perubahan tujuan
organisasi yang lebih mencerminkan nilai-nilai yang disesuaikan dengan
perubahan situasi dan kondisi.
·
Perlembagaan
konflik itu sendiri, artinya konflik disalurkan agar tidak merusak susunan atau
struktur organisasi; dengan demikian konflik tidak dipadamkan tetapi dialirkan
dengan kehendak anggota sehigga tercipta tata susunan baru peraturan permainan
dalam organisasi.
2.
Konflik dengan
organisasi lain mungkin dapat:
·
Lebih mempersatukan
para anggota organisasi
·
Mendatangkan
kehidupan baru di dalam hal tujuan serta nilai organisasi
·
Lebih menyadarkan
para anggota terhadap strategi serta taktik lawan
·
Menjadi suatu
lembaga pengawasan masyarakat
Sementara itu ada pula konflik yang bersifat destruktif
atau mengganggu kinerja organisasi/kelompok. Konflik seperti ini adalah konflik
dysfunctional. Biasanya hal ini terjadi bila konflik yang terjadi hanya memakan
pikiran, waktu, tenaga, dan lain-lain. Konflik dysfunctional menghambat
koordinasi dan hubungan antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi.
Salah satu kriteria untuk menentukan apakah suatu konflik
termasuk konflik fungsional atau dysfunctional adalah kinerja kelompok.
Seringkali pandangan seorang individu berbeda dengan pandanga kelompok secara
keseluruhan. Suatu konflik dapat sja merupakan konflik fungsional bagi
seseorang individu, tetapi dysfunctional bagi kelompok. Dalam konteks TQM,
kriteria yang digunakan tetaplah kriteria kelompok, bukan kriteria individual.
Agar suatu konflik dapat diantisipasi dan dipecahkan sebelum berkembang menjadi
dysfunctional, maka perlu dipahami beberapa faktor yang bisa menyebabkan
timbulnya konflik. Beberapa faktor tersebut antara lain:
·
Kepribadian atau
sistem nilai yang bertentangan
·
Batas-batas
pekerjaan yang tumpang tindih atau tidak jelas
·
Persaingan dalam
mendapatkan sumberdaya yang terbatas
·
Komunikasi yang
kurang memadai
·
Tugas-tugas yang
saling tergantung (misalnya seorang individu tidak dapat menyelesaikan tugasnya
sebelum orang lain telah merampungkan tugasnya).
·
Konfleksitas
organisasi
·
Kebijakan standar
atau peraturan yang tidak jelas
·
Deadline yang tidak
masuk akal atau tekanan waktu yang terlampau ekstrim
·
Pengambilan
keputusan kolektif (semakin banyak orang yang berpartisipasi dalam proses
pengambilan keputusan, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik)
·
Pengambilan
keputusan berdasarkan konsensus
·
Harapan-harapan
yang tidak terpenuhi (misalnya harapan yang tidak realistis terhadap pekerjaan,
gaji, atau promosi)
·
Konflik yang tidak
terpecahkan atau tersembunyi
Manajer
TQM harus secara produktif memantau setiap kemungkinan atau sumber timbulnya
konfil tersebut dan mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya
konfik dysfunctional. Misalnya konflik kelompok dapat dikurangi dengan jalan
melalukan pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas, bukan sekedar
mencari konsensus.
Metode Manajemen Konflik
Ada
tiga bentuk manajemen konflik, yaitu:
1.
Metode Stimulasi Konflik
Dalam situasi
konflik terlalu rendah sehingga menyebabkan para karyawan takut berinisiatif
dan menjadi pasif, manajer perlu merangsang timbulnya persaingan dan konflik
yang dapat mendorong peningkatan prestasi. Metode simulasi konflik terdiri
atas:
·
Penempatan orang
baru atau orang luar ke dalam kelompok tersebut
·
Penyusunan kembali
organisasi
·
Penawaran bonus,
insentif, dan penghargaan untuk mendorong persaingan
·
Pemiliha manajer
yang tepat
·
Perlakuan yang
berbeda dengan kebiasaan.
2.
Metode Pengurangan Konflik
Metode ini
bertujuan menekan terjadinya antagonisme yang di timbulkan oleh konflik. Ada 2
metode yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik yaitu:
·
Mengganti tujuan
yang menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bisa diterima kedua
kelompok yang terlibat konflik
·
Mempersatukan kedua
kelompok yang bertentangan untuk menghadapi tantangan atau musuh yang sama
3.
Metode Penyelesaian Konflik
Ada lima metode
yang diterapkan yaitu:
·
Competition
Metode ini
digunakan bila salah satu pihak berusaha untuk mencapai tujuanny tanpa
menghiraukan dampaknya terhadap pihak-pihak lain
·
Avoidance
Metode ini
diterapkan bila salah satu pihak yang berselisih menarik diri atau berusaha
menekan konflik yang terjadi.
·
Accomodation
Dalam metode ini
salah satu pihak berusaha untuk mengalah, dalam artian memenuhi tuntutan pihak
aposisinya.
·
Compromise
Bila masing-masing
pihak yang berselisih sama-sama bersedia berkorban maka hasil kompromi akan
tercapai
·
Collaboration
Metode ini berupaya untuk
memberikan keuntungan bagi setiap yang berlibat. Metode ini berusaha mengubah
konflik menjadi situasi pemecahan masalah bersama.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kepemimpinan adalah kekuasaan
untuk mempengaruhi seseorang baik dalam mengerjakan sesuatu atu tidak
mengerjakan sesuatu. Seseorang dikatakan
apabila dia mempunyai pengikut atau bawahan.Bawahan pemimpin ini dapat disuruh
untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan
bersama yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Semakin tinggi kedudukan seorang
pemimpin dalam organisasi maka semakin dituntut daripadanya kemampuan berfikir
secara konsopsional strategis dan makro. Semakin tinggi kedudukan seseorang
dalam organisasi maka ia akan
semakin generalist, sedangkan apabila semakin rendah kedudukan seseorang dalam
organisasi maka ia menjadi spesialis.