Sabtu, 01 Desember 2018

TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN KEBERHASILAN KINERJA BERBASIS BALANCED SCORE CARD PADA SUATU KOPERASI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang  

Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, peran manajemen perusahaan yang baik merupakan suatu keharusan yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan demikian perusahaan perlu mempunyai suatu sistem manajemen yang dirancang sesuai dengan kebutuhan linkungan usahanya, karena jika sistem yang digunakan sudah sesuai dengan lingkungannya maka perusahaan akan mampu menghadapi persaingan dan berkembang dengan baik dalam lingkungan tersebut.
Penilaian kinerja merupakan hal yang penting yang harus dilakukan suatu perusahaan. Penilaian ini bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat digunakan dalam mengevaluasi dan mengembangkan kinerja. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh imbalan yang baik dari perusahaan. Manajer perusahaan biasanya masih menggunakan pengukuran kinerja tradisional yakni hanya menetikberatkan pada sisi keuangan, dengan demikian apabila perusahaan berhasil mencapai keuntungan yang tinggi makan akan dinilai berhasil dan memperoleh bonus yang besar pula dari perusahaan.
Namun pengukuran kinerja yang hanya menitikberatkan pada sisi keuangan tidak dapat mengukur kinjerja perusahaan secara akurat. Ini disebabkan karena data keuangan yang digunakan adalah data akuntansi yang mana terdapat penafsiran atau estimasi yang digunakan dalam pembuatannya, sehingga mengakibatkan berbagai macam distorsi yang berdampak pada pengukuran kinerja perusahaan yang tidak tepat dan akurat.
Untuk mengatasi hal tersebut maka dapat digunakan sistem pengukuran kinerja yang dirancang oleh Kaplan dan Norton yaitu Balanced Scorecard. Konsep Balanced Scorecard yang dibuat oleh Kaplan dan Norton pada tahun 1992 adalah sebuah metode peneliaian kinerja dengan mengukur sisi keuangan dan juga non keuangan dari suatu perusahaan dengan menyesuaikan pada strategi dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan.

 Koperasi memerlukan pengukuran kinerja yang tepat sebagai dasar untuk menentukan efektifitas kegiatan usahanya, tidak hanya dilihat dari kinerja keuangannya saja, namun juga dilihat dari kinerja perspektif pembelajaran & pertumbuhan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pelanggan. Untuk itu, Balanced Scorecard digunakan sebagai basis pengukuran kinerja. Penelitian ini dilakukan pada koperasi XYZ dan dari keempat perspektif balanced scorecard.  Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa kinerja dari keempat perspektif balanced scorecard pada suatu  koperasi adalah beragam. Terdapat penurunan dari perspektif keuangan, sedangkan untuk ketiga perspektif  lainnya menghasilkan kinerja yang baik.
Koperasi dituntut untuk terus meningkatkan kinerjanya agar dapat beroperasi dengan baik dan efisien, karena dunia usaha semakin kompetitif, maka dari itu, koperasi memerlukan pengukuran kinerja yang tepat sebagai dasar untuk menentukan efektifitas kegiatan usahanya terutama efektifitas operasional, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengukuran kinerja merupakan usaha yang dilakukan pihak manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing pusat pertanggungjawaban didalam sistem pengendalian manajemen pada suatu organisasi bisnis. Untuk itu, pengukuran kinerja akan sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah perencanaan dan pengendalian untuk mencapai visi dan misi sebuah organisasi. Konsep principal-agent juga menjadi alasan mengapa pengukuran kinerja ini dibutuhkan. Ahli ekonomi memperkenalkan teori principal-agent untuk merumuskan konflik yang melekat pada executive teams dan shareholders (Kaplan, 2010). Para agen prinsipal mendesak perusahaan untuk memberikan insentif kepada executive teams, terutama insentif terhadap kinerja yang menunjang performa finansial perusahaan. Terdapat keterkaitan antara gaji para manajer perusahaan dengan insentif untuk menghasilkan performa finansial perusahaan yang baik, untuk itu, dibutuhkan sebuah alat ukur untuk mengukur kinerja para manajer agar insentif yang berikan bisa sesuai.
Pengukuran kinerja yang selama ini digunakan oleh koperasi yaitu pengukuran kinerja dengan menggunakan tolok ukur keuangan saja, belum mampu mencerminkan kompleksitas yang melekat pada organisasi koperasi. Kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pengukuran kinerja keuangan adalah ketidakmampuan untuk mengukur kinerja harta tak tampak serta harta intelektual dan kinerja yang diukur secara keuangan hanya mampu bercerita mengenai masa lalu organisasi bisnis dan tidak mampu sepenuhnya menuntun mereka kearah yang lebih baik. Kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengukuran kinerja tersebut, mengakibatkan perlunya pengukuran yang menyeluruh, yaitu pengukuran kinerja yang tidak hanya mengukur kinerja keuangan saja akan tetapi juga mampu menggambarkan kondisi koperasi secara lengkap.
Gagasan untuk menyeimbangkan pengukuran aspek keuangan dan non keuangan melahirkan apa yang dinamakan Balanced Scorecard. Menurut Hansen dan Mowen (2009), Balanced Scorecard adalah sistem manajemen kinerja terintegrasi yang menghubungkan berbagai tujuan dan ukuran kinerja dan strategi organisasi. Balance Scorecard adalah sistem manajemen strategis yang mendefinisikan sistem akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan strategi (Hansen dan Mowen, 2009:366). Balance Scorecard harus menjadi lebih dari sekedar gabungan dari ukuran finansial dan non finansial yang dikelompokkan ke dalam empat perspektif. Scorecard harus menjelaskan strategi unit bisnis keseluruhan. Hal ini dilaksanakan dengan menggabungkan ukuran hasil dengan faktor pendorong kinerja melalui serangkaian hubungan jika-maka (Kaplan dan Norton 2000:144). Balanced Scorecard menerjemahkan misi dan strategi organisasi dalam tujuan operasional dan ukuran kinerja dalam empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (Hansen dan Mowen, 2009:366).
Koperasi sebagai salah satu organisasi yang tidak hanya mementingkan perolehan laba semata, memiliki karakteristik penting yang terlihat dari fungsi dan peran yang diamanatkan oleh Undang Undang No. 25 Tahun 1992 yang diantaranya adalah membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. Akan tetapi pada kenyataannya koperasi belum bisa melakukan penilaian kinerja secara baik (Ikhsan, 2009).

1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan diatas, maka rumusan masalah dalam usulan penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana kinerja koperasi yang diukur dengan menggunakan Balanced Scorecard ?



1.3    Tujuan dan Manfaat
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah yang ada yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana kinerja  pada sebuah koperasi yang   diukur dengan menggunakan Balanced Scorecard.





























BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Balanced Scorecard
Balanced Scorecard merupakan kumpulan ukuran kinerja yang terintegrasi yang diturunkan dari startegi perusahaan yang mendukung strategi perusahan secara keseluruhan. Balanced Scorecard memberikan suatu cara untuk mengkomunikasikan strategi suatu perusahan pada manajer-manajer diseluruh organisasi. Balanced Scorecard juga menunjukan bagaimana perusahaan menyempurnakan prestasi keuangannya (Amin Widjaja Tunggal, 2002:1).
Balanced Scorecard menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton (1997:7) merupakan suatu metode penilaian yang mencakup empat perspektif untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu perspektif keuangan , perspektif pelanggan, persepktif proses bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Balanced Scorecard menekankan bahwa pengukuran keuangan dan non keuangan harus merupakan bagian dari informasi bagi seluruh pegawai dari semua tingkatan bagi organisasi. Tujuan dan pengukuran dalam Balanced Scorecard bukan hanya penggabungan dari ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan yang ada,  melainkan merupakan hasil dari suatu proses atas bahwa (top-down) berdasarkan misi dan strategi dari suatu unit usaha, misi dan strategi tersebut harus diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih nyata (Teuku Mirza, 1997:14)
                                            
2.2       Penilaian Kinerja
Kinerja merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode, seiring dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya – biaya masa lalu atau yang diproyeksikan, suatu dasar efisiensi, pertanggung jawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya (Fauzi, 1995:207). Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan kegiatan manusia dalam mencapai tujuan organisasi. Mulyadi (1997:419) mendifinisikan penilaian kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.    
Karena organisasi pada dasarnya dioperasikan oleh sumber daya manusia maka penilaian kinerja merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang mereka mainkan dalam organisasi. Setiap organisasi mengharapkan kinerja yang memberikan kontribusi untuk menjadikan organisasinya  sebagai suatu institusi yang unggul dikelasnya. Jika keberhasilan organisasi untuk mengadakan institusi yang unggul ditentukan oleh berbagai faktor maka berbagai faktor yang menentukan keberhasilan perusahaan  untuk menjadikan organisasi suatu institusi yang unggul tersebut digunakan sebagai pengukur keberhasilan personal. Dengan demikian, dibutuhkan suatu penilaian kinerja yang dapat digunakan menjadi landasan untuk mendesain sistem penghargaan agar personel menghasilkan kinerjanya yang sejalan dengan kinerja yang diharapkan oleh organisasi.


2.3       Pengertian Umum Koperasi
Koperasi merupakan suatu badan usaha bersama yang berjuang dalam bidang ekonomi dengan menempuh jalan yang tepat dan mantap dengan tujuan membebaskan diri para anggotanya dari kesulitan-kesulitan ekonomi yang umumnya diderita oleh mereka (Karta Soeputra, 1:2001).
Koperasi itu sendiri berasal dari dua kata yaitu “co” dan “operation”, yang mengandung arti bekerja sama untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu definisi koperasi dapat diartikan sebagai suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota dengan bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya (Arifinal, 1:1984).
Definisi tersebut mengandung unsur bahwa:
o   Perkumpulan koperasi bukan merupakan perkumpulan modal, akan tetapi persekutuan sosial.
o   Sukarela untuk menjadi anggota, netral terhadap aliran dan agama.
o   Tujuannya mempertinggi kesejahteraan jasmaniah anggota-anggota dengan kerjasama secara kekeluargaan.
Sedangkan menurut menurut UU No. 17 Tahun 2012, koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, untuk dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.


2.4       Penerapan Balanced Scorecard pada Koperasi
Karakteristik koperasi adalah badan usaha yang mengorganisir pemanfaatan dan pendayagunaan sumber ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat dan soko guru perekonomian nasional (Ikatan Akuntansi Indonesia; 1998)
Sebuah koperasi akan dianggap berhasil apabila mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar yang menjadi anggotanya. Untuk mendorong dan memberi arahan kepada anggota, masyarakat, pengurus, serta pengawas koperasi dalam menjalankan aktivitasnya agar selalu berada dalam batas-batas prinsip koperasi yang benar, sebuah model penilaian yang lebih kompetetif amatlah penting artinya. Model penilaian ini haruslah melihat kepentingan dan kesejahteraan anggota pada posisi - posisi yang sentral dari keseluruhan aktivitas koperasi.
Dalam konteks Balanced Scorecard sebagai sebuah penilian kinerja, sungguhlah relevan untuk melakukan penyesuaian atas keempat perspektif yang diajukan Kaplan dan Norton yang menempatkan kinerja keuangan sebagai tolok ukur utama. Penempatan kepentingan anggota dan kesejahteraannya sebagai tujuan utama sebuah koperasi juga akan bisa melaksanakan berbagai program seperti yang selama ini terjadi (Ali Mutasowifin;2002).


2.5       Persepktif-perspektif Balanced Scorecard pada Badan Usaha Koperasi

a.      Perspektif keanggotaan
Karakteristik utama koperasi adalah koperasi memiliki identitas ganda (dual identity of the member) yaitu anggota sebagai pemilik dan sekaligus pengguna jasa koperasi (user of oriented firm) (Ikatan Akuntansi Indonesia; 1998). Berdasarkan karakteristik tersebut maka dalam model Balanced Scorecard untuk koperasi pada perspektif konsumen atau pelanggan diganti dengan perspektif keanggotaan. Perspektif keanggotaan ini lebih tepat bukan menggantikan perspektif pelanggan namun merupakan perluasan dari perspektif pelanggan dalam bentuknya yang lazim. Dengan demikian ukuran-ukuran yang dipergunakan harus mengakomodasi posisi untuk anggota sebagai pemilik (Ali Mutasowifin ; 2002).
o   Pangsa pasar
Untuk menggambarkan seberapa besar jumlah anggota yang dikuasai koperasi dalam suatu segmen tertentu.
o   Kemampuan mempertahankan anggota (customer retention)
Tingkat kemampuan koperasi untuk mempertahankan hubungan dengan konsumennya yang mungkin seberapa besar koperasi berhasil mempertahankan anggota lamanya.
o   Kemampuan koperasi meraih anggota baru. (customer acquisition)
Tingkat kemampuan koperasi demi memperoleh dan menarik anggota baru dalam Koperasi.
o   Tingkat kepuasan anggota (customer satiffation)
Merupakan suatu tingkat kepuasan anggota terhadap kriteria kinerja tertentu yang diberikan oleh koperasi.
o   Tingkat kesejahteraan anggota.
Merupakan suatu tingkat kesejahteraan anggota terhadap kualitas kehidupan anggota. Dalam meningkatkan kesejahteraan anggota, koperasi tidak hanya dituntut untuk mempromosikan usaha-usaha ekonomi anggota, tetapi juga mengembangkan sumber daya anggota melalui pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan sehinggan anggota semakin profesional dan mengikuti perkembangan bidang usahanya (Ali Mutasowifin; 2001).
o   Profitabilitas anggota
Ukuran profitabilitas anggota dapat mengungkapkan anggota sasaran tertentu yang tidak memberikan keuntungan. Hal ini dapat diukur dengan menggunakan rasio anggota yang aktif dan anggota yang pasif.

b.      Perspektif Keuangan
Penyusunan dan analisis laporan keuangan suatu koperasi berguna untuk mengetahui posisi keuangan koperasi pada suatu saat tertentu dan untuk dijadikan alat dalam pertanggung jawaban pengurus dalam Rapat Anggota Tahunan koperasi, disamping itu untuk menetapkan dan merencanakan langkah-langkah berikutnya agar koperasi tetap dapat bertahan (Sudarsono dan Edilius, 1994; 202).
Adapun dalam menganalisis laporan keuangan pada koperasi digunakan analisis sebagai berikut (Mansngudi dan Victoria; 1991):
o   Rasio likuiditas
Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan koperasi dalam membayar segala kewajiban jangka pendek. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas adalah :

 x 100%




o   Analisis Solvabilitas
Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan koperasi membayar segala kewajibannya pada saat koperasi seandainya dilikuidasi atau dinyatakan bangkrut.
o   Analisis ROA (Return On Assets)
Analisis ROA digunakan untuk melihat koperasi dalam menciptakan laba dengan menngunakan return kekayaannya.
                                         
o   Analisis ROE (Return On Equity)
Analisis ROE digunakan untuk melihat kemampuan koperasi dalam mengembalikan modal sendiri yang diinvestasikan yaitu dengan membandingkan keuntungan terhadap modal sendiri.

c.       Perspektif Bisnis Internal
Secara umum Kaplan dan Norton (1996;96) membaginya menjadi tiga prinsip dasar yaitu :
o   Inovasi
Agar inovasi diterima dan dijadikan pemenuhan kebutuhan serta dijadikan pedoman bertingkah laku dalam menghadapi masalah pemenuhan kebutuhan, maka diperlukan rekayasa sosial yang tepat guna. Rekayasa sosial yang dimaksud dan sebagaimana yang diharuskan dalam GBHN tahun 1988 adalah penyuluhan (Asep Sumarayana, 1992;120).
o   Operasi
Tahap operasi menitik beratkan pada proses penyampaian jasa kepada pelanggan yang ada secara effisien , konsisten dan tepat waktu. Sebagai tolok ukur yang digunakan untuk mengukur proses operasi persetujuan kredit adalah dengan menggunakan MCE.

o   Layanan Pasca Jual
Dalam tahap ini koperasi berusaha memberikan manfaat tambahan dalam bentuk berbagai layanan pasca transaksi. Dalam hal ini berupa peningkatan interaksi koperasi dengan anggota dan masyarakat. Tolak ukur yang digunakan adalah persentase anggota yang aktif berpartisipasi (Ali Mutasowifin, 2002;261).

d.      Perspektif Pertumbuhan Dan Pembelajaran
Kaplan dan Norton membagi tolok ukur ini dalam tiga prinsip yaitu :
o   People
Tenaga kerja dalam koperasi perlu dikelola secara professional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan karyawan dengan kepentingan dan kemampuan organisasi koperasi. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama dalam pendayagunaan sumber daya karyawan untuk mencapai produktivitas kerja yang maksimal (A.A Anwar Prabu Mangkunegara, 1992;112). Dalam hal kaitannya dengan sumber daya manusia ada tiga hal yang perlu ditinjau dalam menerapkan Balanced Scorecard:
·         Tingkat Kepuasan Karyawan
Tingkat kepuasan karyawan merupakan suatu kondisi untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, pelayanan, kepada anggota koperasi. Unsur-unsur dalam kepuasan karyawan antara lain (Kaplan dan Norton ,1996;113):
§  Keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
§  Penghargaan atas pekerjaan yang dilakukan.
§  Akses yang memadai terhadap informasi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.
§  Dorongan aktif untuk bekerja kreatif dan menggunakan inisiatif.
§  Kepuasan keseluruhan dengan koperasi.

·         Tingkat Perputaran Karyawan (retensi karyawan )
Retensi karyawan adalah kemampuan perusahaan untuk mempertahankan pekerja-pekerja terbaiknya untuk terus berada dalam organisasinya.
·         Produktivitas Karyawan.
Produktivitas merupakan hasil dari pengaruh rata-rata dari peningkatan keahlian dan semangat inovasi, perbaikan proses internal dan tingkat kepuasan anggota. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi karyawan dengan meningkatkan pendidikan perkoperasian. Tolak ukur yang digunakan adalah frekuensi penyelenggaraan pendidikan perkoperasian.

o   System
Merupakan pengembangan sistem informasi strategi yang ada pada koperasi. Ukuran pendorong kinerja yang digunakan adalah rasio ketersediaan informasi strategis dengan rencana (Ali Mutasowifin, 2001;261).

o   Organizational Procedure
Prosedur yang dilakukan suatu organisasi perlu diperhatikan untuk mencapai suatu kinerja yang handal. Prosedur memberikan kontribusi pada keberhasilan usaha apabila mereka termotivasi untuk bertindak selaras dengan tujuan perusahaan atau apabila mereka diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan atau bertindak.
o   Motivasi
Merupakan kondisi yang menggerakkan karyawan untuk mencapai motifnya. Memotivasi kerja berarti upaya pengurus koperasi dalam mengkondisikan kebutuhan karyawan untuk mencapai tujuan koperasi. Adanya para pekerja yang termotivasi dapat diukur dengan banyaknya saran yang diberikan per karyawan, dan jumlah saran yang dilaksanakan per karyawan.
BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan

Bahwa metode Balanced Scorecard dapat diterapkan sebagai sistem pengukuran kinerja perusahaan secara komprehensif atau menyeluruh melalui empat perspektif, yaitu perspektif finansial, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan pada badan usaha berbentuk koperasi.
Koperasi dapat menerapkan metode Balanced Scorecard sebagai sistem pengukuran kinerja koperasi yang dapat mengukur kinerja koperasi secara komprehensif atau menyuluruh.



DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, Robert S, and David P Norton. 2000. Balance Scorecard Menerapkan
Strategi menjadi aksi. Terjemahan, Jakarta: Erlangga.
Kusumaningtyas, Triastuty, 2004. Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolok Ukur Penliaian Kinerja Pada Badan Usaha Berbentuk Koperasi. Skripsi
Hansen & Mowen. (2006). Akuntansi Manajemen, Accounting Management.
Jakarta: Salemba Empat.
Http:// Calrajanuary.com/Makalah-Ekonomi-Koperasi-di-Indonesia di akses pada
tanggal 04 mei 2013

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Analis Industri dan Pesaing

Langkah-langkah menganalisis pesaing ( Kotler ): – Mengidentifikasi pesaing – Menentukan sasaran pesaing – Mengidentifik...