BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kebutuhan
dalam sarana informasi dari hari ke hari akan terus meningkat dan berkembang
sejalan berkembangnya teknologi telekomunikasi dibidang multimedia. Dari
berbagai macam teknologi bahwa via internet yang paling berkembang pesat.
Selain cepat dan praktis para pemakai juga dapat memperoleh informasi yang
aktual secara global dan dapat juga dilakukan berbagai transaksi via internet.
Menanggapi kemajuan internet yang begitu pesat
dan juga besarnya kebutuhan masyarakat akan penggunaan jasa internet maka
belakangan ini banyak dibuka warung internet. Sehingga warung internet ini
mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat yang menggunakan jasa internet
,terutama bagi mereka yang tidak memiliki komputer pribadi atau juga memiliki
komputer yang tidak dilengkapi sarana internet.
Dalam mendirikan sebuah warung internet yang
cukup memadai tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Namun banyak warung
internet dalam mendesain stasiun kerjanya kurang ergonomis, sehingga
menimbulkan keluhan-keluhan bagi konsumen. Warung internet Fachry Center didirikan
untuk memberikan pelayanan kepada konsumen. Pemilik ingin memberikan pelayanan
yang terbaik. Yaitu dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang dapat menarik
konsumen. Diantaranya akses internet yang cepat, ruangan luas dan nyaman.
Dengan adanya fasilitas yang ditawarkan diharapkan konsumen akan betah dan
nyaman. Namun dalam mendesain pemilik warung internet Fachry belum memperhatikan antara ukuran meja
,tinggi kursi, tinggi keyboard, jarak mata dengan monitor,dan ruangan.
hal ini dapat menimbulkan keluhan bagi pemakai.. Keluhan-keluhan yang timbul
biasanya sakit pada bagian punggung, pada pinggang, pada lengan karena adanya
pembebanan otot statis, keluhan pada mata karena jarak mata dengan monitor yang
kurang pas, dan adanya keluhan pada otot kaki karena kursi yang tidak sesuai
ataupun ruangannya. Sehingga menimbulkan kurang kenyamanan konsumen.
Desain
warung internet harus memperhatikan kenyamanan dan privasi pemakainya.
Kenyamanan konsumen dipengaruhi oleh lingkungan sekitar seperti temperatur,
pencahayaan, kebisingan, tinggi kursi terhadap tinggi meja, lebar kursi,tinggi keyboard,dan
jarak pandang mata terhadap monitor. Oleh karena itu dalam perancangan stasiun
kerja pada penyewaan jasa internet perlu memperhatikan kenyamanan bagi pengguna
jasa internet bertujuan untuk menarik perhatian konsumen dan untuk pengguna
agar pemakaiannya selama mungkin.
Menanggapi kemajuan internet yang
begitu pesat dan besarnya kebutuhan masyarakat akan pengguna jasa internet maka
saat ini banyak dibuka warung-warung internet. Banyak warung internet dalam
mendesain stasiun kerjanya kurang ergonomis sehingga sering menimbulkan keluhan
bagi pemakai.
Berkomputer dengan menerapkan
prinsip-prinsip ergonomis merupakan cara untuk menghindari ketidaknyamanan yang
pada akhirnya akan menimbulkan gangguan kesehatan. Berikut beberapa cara kerja
dan pengaturan tempat maupun perangkat kerja yang akan mampu menghindarkan anda
dari ketidaknyamanan berkomputer.
Pada penelitian kali ini, yang
menjadi objek penelitian yaitu sebuah warnet “Fachry Center” di Bandung. Saat
ini warnet tersebut menyediakan fasilitas game online, seperti Ragnarok,
General Conquere, dan lain sebagainya.Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang
telah dilakukan kepada pemilik, penjaga dan pengunjung warnet, ditemukan banyak
keluhan-keluhan akan ketidak nyamanan ruangan tersebut. Keluhan-keluhan
tersebut dapat
disebabkan karena ketidak ergonomisan fasilitas dan
tata letak fasilitas, pengaturan suhu dan kelembaban serta pencahayaan yang
kurang diperhatikan. Diharapkan dengan dilakukannya perancangan fasilitas, tata
letak fasilitas dan kondisi lingkungan, maka ruangan warnet tersebut menjadi
lebih baik, nyaman, dan sirkulasi udara menjadi lancar. Pengguna warnet merasa
lebih santai dan nyaman sehingga dapat menggunakan fasilitas internet tersebut
dengan lebih lama.
Warung internet ini
mendapatkan tanggapan yang antusias dari para pengguna internet dan game online
bagi yang tidak memiliki komputer pribadi tanpa koneksi internet di rumah atau
sekedar ingin menghabiskan waktu luang dengan bermain game online bersama teman.
Hal yang penting dalam mendirikan warung internet adalah memperhatikan
kenyamanan dan privasi dari Operatornya. Pemilik warung internet perlu
memperhatikan hal ini agar dapat menarik lebih banyak konsumen dan membuat
mereka betah dan nyaman di dalam warung internet dalam waktu yang lama, oleh
karena itu diperlukan pengembangan produk yang dapat berfungsi mengurangi
keluhan yang ditimbulkan dari aktivitas mengoperasikan komputer dan memberikan
kenyamanan bagi Operator. Perbandingan antara meja dan kursi warung internet
yang sudah ada dengan yang inovasi yaitu terletak pada sandaran kaki dan
sandaran punggung kursi yang dinamis. Rancangan desain meja dengan sandaran
kaki diharapkan mampu mengurangi keluhan pada anggota tubuh seperti rasa pegal
di betis dan bagian kaki lainnya, rancangan desain kursi dengan sandaran
punggung dinamis yang mengikuti dan mengimbangi gerakan bentuk punggung dengan
sandaran tangan/sandaran siku diharapkan dapan mengurangi keluhan pada anggota
tubuh seperti lengan, bahu, pinggang, punggung dan lain-lain.
Walaupun sudah banyak
manfaat yang dapat diperoleh dari pemakaian meja dan kursi computer warnet,
namun belum banyak yang menyadari bahwa pemakaian meja dan kursi computer
warnet juga dapat menimbulkan masalah tersendiri. Masalah yang dimaksudkan
adalah ketidak nyamanan yang disebabkan oleh pemakaian meja dan kursi computer
warnet, terutama bila memakai dengan meja dan kursi computer warnet dalam waktu
yang lama secara terus menerus.
Adanya permasalahan
tersebut, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap rancangan fasilitas kerja
yang digunakan oleh konsumen dengan pertimbangan pertimbangan yang telah
dikemukakan diatas. Perbaikan yang akan dilakukan adalah dengan merancang ulang
meja komputer dan menambahkan rancangan fasilitas kursi yang sesuai dengan data
antropometri. Perbaikan pada fasilitas stasiun kerja tersebut maka diharapkan
pekerjaan dapat dilakukan dalam posisi yang lebih nyaman.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu :
·
Bagaimana merancang merancang dan membuat meja untuk
pelanggan warung internet yang ergonomis dengan menggunakan pengolahan data
antropometri untuk menghasilkan rancangan meja dan kursi yang nyaman bagi
pengunjung warnet.
·
Apa saja dimensi tubuh yang digunakan dalam
perancangan dan pembuatan meja dan kursi warnet.
1.3
Tujuan
dan Manfaat Penelitian
Tujuan diadakannya
penelitian ini adalah untuk melihat desain kursi kerja yang layak berkaitan
dengan unsur kesehatan tubuh guna menjaga kekuatan tulang belakang. Sikap duduk
yang baik bisa mempengaruhi kesehatan organ-organ tubuh yang lain. Kebutuhan
bentuk dan ukuran kursi seseorang akan berubah karena usia bertambah, kesehatan
dan sebagainya.
1.4
Sistematika
Penulisan
Untuk
memperoleh gmbaran secara umum bagian-bagian yang akan dibahas dalam penelitian
ini, maka peneliti menguraikan secara ringkas isi masing-masing poin dengan
sistematika sebagai berikut :
BAB
I PENDAHULUAN
Berisi mengenai penjelasan latar
belakang pemilian judul,perumusan masalah serta tujuan dan manfaat penelitian.
BAB
II LANDASAN TEORI
Berisi penejelasan mengenai landasan
teori yang mendasari penelitian, tinjauan umum mengenai variabel dalam
penelitian, pengembangan, tinjauan umum mengenai variabel dalam penelitian,
pengembangan kerngka pemikiran serta hipotesis penelitian.
BAB
III METODE PENELITIAN
Berisi penjelasan mengenai variabel
penelitian dan defenisi operasional variabel, populasi, dan sampel penelitian,
jenis dan sumber data dari variabel penelitian, metode pengumpulan data yang
digunakan, metode analisis dalam penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab
ini membahas konsep-konsep berkaitan dengan objek penelitian yang dilakukan.
Teori pendukung yang dibahas dalam bab ini antara lain tentang konsep ergonomi,
dan antropometri.
2.1 Ergonomi
Istilah ergonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu
“ergo”yang berarti kerja dan “nomos”yang berarti hukum alam. Istilah tersebut
mulai di cetuskan pada tahun 1949. Jadi ergonomi dapat didefinisikan sebagai
studi tentang aspek aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau
secara anatomi, fisiologi, psikologi, manajemen, dan desain atau perancangan
termasuk didalamnya mengenai peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada
saat manusia bekerja (Nurmianto,1996).
Ergonomi sebagai suatu cabang ilmu yang sistematis
untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat ,kemampuan dan keterbatasan manusia
untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan kerja pada
sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekarjaan
itu dengan efektif,aman dan nyaman.
Maksud dan tujuan utama dari pendekatan disiplin
ergonomi diarahkan pada upaya untuk memperbaiki performansi kerja manusia
seperti menambah kecepatan kerja, ketelitian dan keselamatankerja. Selain itu
juga bertujuan untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan, mengurangi
kelelahan yang terlalu cepat, memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia
serta meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan manusia(human
error). Umumnya penerapan ergonomi ditandai dengan aktivitas rancang bangun(design)
dan rancang
ulang
(redesign). Aktivitas ini dapat meliputi design perangkat keras, misal
perangkat kerja ,pegangan alat kerja atau workholder, dan sebagainya.
Berdasarkan pernyataan diatas ,telah dijelaskan
bahwa sasaran ergonomi yaitu efektifitas dan efisiensi kerja. Ergonomi
mengusahakan agar tenaga kerja dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi dalam
suasana tenteram,nyaman dan aman.
2.2 Pebebanan otot secara statis pada saat
melakukan kerja
Beban otot statis terjadi ketika otot dalam keadaan
tegang (tension)tanpa menghasilkan gerakan tangan dan kaki (limbs)
sekalipun. Penggerak rithmik (berirama) yang dinamis adalah proses pemompaan
aliran darah oleh organ tubuh manusia. Beban otot statis terjadi jika postur
tubuh berada dalam kondisi yag tidak natural ,peralatan material ditahan pada
posisi yang berlawanan dengan arah
grafitasi.
2.3 Antropometri
Aspek aspek ergonomi dalam suatu proses rancang
bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang
peningkatan pelayanan jasa produksi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi
dalam proses rancang bangun fasilitas pada dekade sekarang ini adalah merupakan
sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari
pembahasan mengenai ukuran anthropometri tubuh operator maupun penerapan
datadata operatornya.
Istilah anthropometri berasal dari “anthro”
yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara definitif
anthropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran
dimensi tubuh manusia. Manusia pada umumnya memiliki bentuk, ukuran (tinggi,
lebar, berat) yang berbeda satu dengan yang lainnya. Anthropometri secara luas
digunakan sebagai pertimbanganpertimbangan ergonomis dalam proses perancangan produk
maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Data anthropometri
yang berhasil diperoleh diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
·
Perancangan areal kerja
·
Perancangan peralatan kerja seperti
mesin, equipment, perkakas.
·
Perancangan produk-produk konsumtif
seperti pakaian, kursi/meja, komputer, dan lain-lain.
·
Perancangan lingkungan kerja fisik.
Oleh karena itu perancangan produk harus mampu
mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
produk hasil rancangan. Secara umum sekurang-kurangnya 90%- 95% dari populasi
yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk harus mampu produk
hasil rancangan dengan nyaman (comfortable) dan aman.
Menurut Nurmianto (1998), antropometri adalah
sekumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh
manusia,ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk
penanganan masalah desain.Penerapan data antropometri ini akan dapat dilakukan
jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi dari suatu
distribusi normal. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan
ergonimis dalam proses perancangan produk maupun sistem kerja yang memperlukan
interaksi manusia. Data antropometri yang diperoleh dapat diaplikasikan secara
luas dalam hal :
·
Perancangan area kerja seperti stasiun
kerja,seperti jasa internet dll.
·
Perancangan peralatan kerja seperti
mesin,perkakas dll.
·
Perancangan produk konsumtif seperti
pakaian kursi meja.
·
Perancangan lingkungan kerja fisik.
Dengan demikian disimpulkan bahwa data antropometri
akan menentukan ukuran, bentuk dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk
yang dirancang dan manusia yang akan memakai produk tersebut.
Menurut Sutalaksana (1979) untuk mendapatkan data
antropometri maka dilakukan pengukuran dimensi tubuh manusia,untuk itu terdapat
dua cara melakukan pengukuran yaitu;
a. Antropometri statis
Antropometri
statis sehubung dengan pengukuran keadaan dan ciriciri Fisik manusia dalam
keadaan diam atau dalam posisi standar.Posisi standar dapat dibedakan atas dua
jenis yaitu posisi standar duduk dan posisi standar berdiri.
b. Antropometri
dinamis
Antropometri
dinamis sehubungan dengan pengukuran keadaan dari ciri-ciri Fisik manusia dala
keadaan bergerak atau memperhatikan gerakangerakan yang mungkin terjadi saat
pekerja tersebut melakukan kegiatan.hal ini ditekankan pada pengukuran yang
berkaitan dengan gerakan yang nyata.
Selain faktor-faktor tersebut masih ada faktor lain
yang mempengaruhi variabilitas ukuran tubuh manusia yaitu :
1. Keacakan
/Random
Walupun
sudah berada dalam suatu populasi yang sudah jelas sama jenis kelaminnya suku
atau bangsa,kelompok usia dan pekerjaan, namun masih akan ada perbedaan yang
signifikan antara berbagai macam masyarakat.
2. Jenis kelamin
Secara
distribusi ststistik ada perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh pria
dan wanita .Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen tubuhnya dari pada
wanita.
3. Suku
bangsa
Variasi diantara beberapa kelompok suku
bangsa telah menjadi hal yang tidak kalah pentingnya terutama karena
meningkatnya jumlah migrasi dari suatu negara ke negara lain.
4. Usia
Digolongkan beberapa kelompok usia yaitu
balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.hal ini jelas berpengaruh
terutama jika desain diaplikasikan untuk antropometri Anak-anak.
5. Jenis
pekerjaan
Beberapa jenis pakerjaan tertentu
menurut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan /stafnya.Seperti misalnya
buruh dermaga atau pelabuhan harus menpunyai postur tubuh yang lebih besar
dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya.
6. Pakaian
Hal ini juga merupakan sumber
variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya iklim yang berbeda dari suatu
tempat ke tempat lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai empat musim,hal
ini akan mempengaruhi cara berpakaiannya.
7. Cacat
tubuh secara fisik
Suatu perkembangan yang menggembirakan
pada dekade terakir ini dengan diberikan skala prioritas pada rancangan bangun
fasilitas akomodasi untuk para penderita cacat secara fisik sehingga mereka
dapat ikut serta merasakan kesamaan dalm penggunaan jasa dari hasil ilmu
ergonomi didalam pelayanan untuk masyarakat.
Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari
berbagai macam anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar
menfaatnya pada suatu perancangan produk atau fasilitas kerja akan dibuat agar
perancangan produk nantinya dapat sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan
menggunakanya. Dalam pemakaian data antropometri tersebut terdapat tiga prisip;
1. Perancangan
berdasarkan individu ekstrim
Prinsip ini digunakan apabila kita
mengharapkan fasilitas yang dirancang dapat
digunakan dengan nyaman oleh sebagian besar orang yang
memakainya.Rancangan produk bagi indvidu dengan ukuran ekstrim ini dibuat agar
bisa mempenuhi dua sasaran produk yaitu;
a.
Dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia
yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil jika
dibandingkan dengan rata-rata.
b.
Tetap bisa digunakan untuk memenuhi
ukuran tubuh yang lain(mayoritas dari populasi yang ada).
Agar
bisa memenuhi sasaran produk tersebut maka ukuran diaplikasikan dengan cara :
1. Untuk
dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya
didasarkan pada nilai persentil terbesar seperti 90 persentil, 95 persentil,dan
99 persentil. Contoh kongkrit untuk kasus ini adalah pada penentuan ukuran
minimum untuk lebar dan tinggi pintu.
2. Untuk
dimensi maksimum yang harus diterapkan diambil berdasarkan nilai persentil
terkecil seperti 1 persentil, 5 persentil, 10 persentil,dari distribusi
antropometri yang ada. Segai contoh hal ini diterapkan dalm penetapan jarak
jangkauan dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang
pekerja.
2. Perancangan
fasilitas yang disesuaikan
Desain ukuran yang dapat disesuaikan
untuk ukuran minimum sampai ukuran maksimum, dari persentil terkecil sampai
persentil terbesar. Prinsip ini hanya dapat digunakan untuk merancang fasilitas
bisa menampung atau dapat dipakai dengan nyaman oleh semua orang yang mungkin
mengunakanya pada pengguna kursi mobil yang bisa diatur maju dan mundur.Dalam
kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel, maka data antropometri
yang umum dipakai adalah rentang nilai 5 persentil dan 95 persentil.
3. Perancangan
fasilitas berdasarkan harga rata-rata pemakai
Dalam ukuran ratarata dari ukuran tubuh
menggunakan 50 persentil ini hanya bisa digunakan bila perancangan derdasarkan
harga ekstrim tidak mungkin bisa dilakukan dan tidak layak jika menggunakn
prinsip paerncangan fasilitas yang bisa disesuaikan.
2.4 Pengukuran Data Antropometri Pada Tubuh
Manusia
Pada
umumnya manusia berbeda dalam hal bentuk dan ukuran tubuh. Ada beberapa faktor
yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, seperti yang telah dijelaskan
diatas diantaranya, yaitu umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan posisi tubuh.
Posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh yang digunakan. Oleh karena
itu dalam antropometri dikenal dua cara pengukuran, yaitu :
1.
Pengukuran dimensi struktur tubuh (structural
body dimension)
Tubuh
diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak. Istilah lain untuk
pengukuran ini dikenal dengan ‘static anthropometri’. Dimensi tubuh yang
diukur dengan posisi tetap meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi
berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang berat badan, tinggi tubuh dalam posisi
berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut berdiri maupun
duduk, panjang lengan dan sebagainya.
2.
Pengukuran dimensi fungsional (functional
body dimension)
Pengukuran
dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat melakukan gerakangerakan tertentu.
Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah
mendapatkan ukuran tubuh yang berkaitan dengan gerakan-gerakan nyata yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
Pengukuran
dimensi struktur tubuh yang biasa diambil dalam posisi duduk dapat dilihat pada
gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1
Gambar antropometri tubuh manusia yang biasa diukur dalam posisi duduk(Roymech,
2005)
Keterangan dari
gambar 2.1 :
1 = tinggi duduk
tegak dan tinggi duduk normal
2 = tinggi mata
duduk
3 = tinggi bahu
duduk
4 = tinggi siku
duduk
5 = tebal paha
6 = jarak pantat
ke popliteal
7 = jarak pantat
ke lutut
8 = tinggi
popliteal
9 = tinggi lutut
10 = lebar dada
11 = panjang
kepala
12 = lebar
pundak
13 = lebar
kepala
14 = lebar bahu
15 = lebar
pinggul
16 = jangkauan
tangan ke atas
17 = jarak siku
ke pundak
18 = jarak siku
ke ujung jari
2.5 Ketingian bangku atau kursi kerja
Ada beberapa macam dasar untuk menentukan
ketinggian permukaan kerja
yaitu ;
1. Bangku
atau mesin yang tepat bekerja sambil berdiri (walaupun duduk dan berdiri
bergantian adalah suatu hal yang mungkin dan diikuti dengan tersedianya kursi
yang sesuai)
2. Bangku
atau kursi yang disesuaikan hanya untuk pekerjaan sambil duduk
Prinsip-prinsip
yang diterapkan dalam perancangan untuk ketinggian 2 jenis permukaan kerja:
a. Hindari
beban otot yang terlalu berat yang disebabkan oleh lengan atas yang
disampingkan terlalu tinggi dalam pekerjaan keyboard, pergeseran lengan atas
yang sering terjadi akan menyebabkan timbulnya keharusan utuk deviasi luar
yaitu penyimpangan pergelangan tangan kearah kelingking.
b. Hindari
tekanan tajam pada sisi lengan dengan bagian bawah pinggiran bangku, jika
permukaan tempat kerja terlalu tinggi.
c. Hindari
posisi membungkuk secara terus menerus jika permukaan tempat kerja terlalu
tinggi.
Sedangkan untuk
stasiun kerja komputer, pengaruhnya adalah sebagai berikut;
1. Ketinggian
kursi diatur sehinga kaki membentuk sudut (90) dan tekanan pada bawah paha
merata.
2. Naik turunkan sandaran punggung sehingga
menopang daerah lumbar.
3. Maju mundurkan sandaran punggung senyaman
mungkin.
4. Atur ketinggian meja kerja sehingga siku
bersudut 90.
5. Pilih
jarak permukaan monitor yang sesuai.
6. Letakkan
monitor disebelah kiri atau kanan sesuai keinginan operator komputer.
7. Atur ketinggian monitor sehingga sudut
pengelihatan berkisar 0-20 dari garis horisontal.
8. Pilih
permukaan monitor seingga membentuk sudut 90 relatif terhadap garis
pengelihatan.
2.6 Fisiologi Duduk
2.6.1 Prinsip Dasar
Duduk merupakan salah satu alternatif yang lebih
baik dibandingkan dengan posisi berdiri tegak.Pada saat berdiri,sendi
kaki,lutut seta pinggul berada dalam suatu keadaan sedemikian rupa sehingga
badan dapat berdiri tegak ditopang oleh sejumlah otot statis, aliran darah dan
cairan jaringan cenderung berakumulasi pada kaki.Keadaan demikian akan
berkurang pada saat duduk karena otot pada keadaan santai serta adanya tekanan
hidrostatis yang menurun pada pembuluh darah kaki,
sehingga
hambatan alian darah kejantung lebih baik pada saat duduk. Ketika duduk, keja
otot statis akan jatuh berkurang sehinga akan megurangi penggunaan energi yang
cukup basar (Nurmianto,1996).
2.6.2 Konsep kesetimbangan Duduk
Posisi duduk melibatkan beberapa tulang, antara lain
lumbar, pelvis, dan sambungan pinggul. Perubahan dari sikap berdiri ke posisi
duduk akan menyebabkan sambungan paha bergarak 60° , hal ini terjadi karena
bentuk lumbar yang jadi rata sudut 90° dibentuk oleh badan dan paha pada
dasarnya terdiri atas 60° perputaran sendi pinggul, dibantu melurusnya kurva
ruas tulang belakang (lumbar) yang memungkinkan pelvis bergerak sebesar 30°,
hal ini dapat dilihat pada gambar 2.2

Gambar
2.2 Gambar Kesetimbangan
Perbedaan lain yang dapat diamati dari posisi
berdiri dan duduk adalah perubahan tulang belakang. Pada saat berdiri tegak,
daerah lumbar akan melengkung kearah dalam membentuk kurva cekung yang
dinamakan lordosis, sedangkan pada saat duduk daerah lumbar akan melengkung
karah
luar.
Sikap duduk yang condong kedepan dengan membungkuk akan membuat kurva antara
paha dan badan lebih keci dari 90° sehingga membentuk kurva cembung
(kifosis).Kifosis lumbar akan megakibatkan terbentuknya piringan antara ruas
tulang belakang.
Sikap duduk yang tegak memberikan tekanan kompresi
pada piringan yang lebih kecil.Sikap ini membentuk adanya kerja statis sejumlah
otot untuk mengkompresi perutaran pelvis kebelakang, akibatnya otot menjadi
tegang dan akan terjadi kelelahan pada otot tersebut. Oleh karena itu sandaran
punggung yang disesuaikan dengan daerah lumbar akan membantu memperlambat
timbulnya
kelelahan.
Sikap duduk yang miring/condong kedepan umumnya
dianggap sebagai suatu sikap relaksasi, walaupun demikian penyangga lumbar
tetap diperlukan pada sikap ini. Bila tidak, lumbar akan menjadi lurus
akibatnya tarikan gaya gravitasi akan diikuti oleh tegangan otot lumbar,
sehingga menimbulkan kelelahan dan tekanan pada piringan ruas tulang belakang.
Menurut Nurmianto (1996) untuk mengurangi tekanan
pada ruas tulang belakang, maka diperlukan sikap duduk yang benar. Hal ini
dapat dicapai dengan menyelonjorkan kaki ke depan atau meletakkan sebelah lutut
kaki keatas paha kaki lainnya. Ini merupakan usaha untuk memperbesar dasar
penyangga tubuh, cenderung mengunci sejumlah sendi yang berkaitan dan
mengurangi kerja otot untuk menyeimbangkan tubuh. Perubahan-perubahan postur
tersebut berlangsung tanpa disengaja, hal ini sebagai internal posture
programe yang memungkinkan badan untuk mencapai kestabilan dan variasi.
Perubahan postur/posisi duduk akan menyebabkan terjadinya kesetimbangan tubuh,
bila kesetimbangan duduk tidak diperoleh dari tempat duduk yang digunakan.
Berdasarkan pada kenyataan tersebut maka hal penting yang harus diperhatikan
dalam perancangan kursi adalah memperhatikan kemampuan elemen-elemen kursi
untuk membentuk kesetimbangan pada saat seseorang duduk diatasnya.
2.7. Perancangan Kursi
Perancangan kursi yang tidak sesuai dengan ukuran
atau bentuk tubuh pemakai dalam waktu yang cepat akan menimbulkan kelelahan.
Posisi duduk yang benar jika hanya terjadi sedikit kurva pada daerah lumbar,
seperti pada posisi berdiri. Pundak harus rileks dengan lengan atas dapat
menggantung bebas, leher tidak terlalu banyak membungkuk saat bekerja.
Proses perancangan duduk dan fasilitas kerja dapat
ditempuh melalui langkah sebagai berikut :
1. Menentukan
anggota tubuh yang akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
2. Menentukan
dimensi tubuh yang penting dala proses perancangan tersebut.
3. Menentukan
populasi yang diaktualisasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan
tersebut
4. Menentukan
prinsip aturan yang harus diikuti apakah rancangan tersebut untuk ekstrim,
rentang ukuran yang fleksibel atau ukuran ratarata
5. Memilih
prosentase populasi yang harus diikuti
6. Menetapkan
nilai ukuran data antropometri yang sesuai dengan aplikasi data tersebut dan
menambah faktor kelonggaran seperti penambahan ukuran akibat tebalnya pakaian,
tingginya sepatu maupun penyusutan tubuh
Sejumlah prinsip yang diperlukan dalam melakukan
perancangan kursi yang ergonomis menurut Nurmianto (1996) adalah :
a. Tinggi
alas duduk
Ditinjau dari konsep keseimbangan maupun
sisi kesehatan, tinggi alas duduk yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi
akan menimbulkan dampak yang kurang baik. Alas duduk yang terlalu tinggi dari
lantai akan menyebabkan daerah popliteal tertekan dan akan menyebabkan
terhambatnya sirkulasi darah.
Sedangkan alas duduk yang terlalu rendah
akan menyebabkan kaki melonjor kedepan dan cenderung menarik tubuh kedepan.
Keadaan ini akan mengurangi memampuan kaki untuk memberi kestabilan pada
tubuh.Secara antropometri tinggi alas duduk yang baik dapat didekati oleh
tinggi popliteal (jarak yang diperoleh dari permukaan lantai kebagian bawah
paha tepat dibelakang lutut).
b. Panjang
alas duduk
Panjang alas duduk sebagai salah satu
ukuran turut memberi peluang munculnya ketidaknyamanan. Bila alas duduk yang
terlalu panjang maka permukaan serta sisi depan kursi akan menekan daerah
popliteal yang dapat menghambat aliran darah kekaki sehingga timbul iritasi dan
ketidaknyamanan.kebiasan yang dilakukan untuk menghindari hal tersebut dengan
menggeser kursi kedepan dan mnengakibatkan punggung tidak tersangga dengan
baik, kestabilan tubuh berkurang sehingga diperlukan kerja otot untuk menjaga
keseimbangan. Panjang alas duduk yang terlalu pendek juga tidak baik karena
seseorang akan cenderung kedepan disebabkan kecilnya daerah bagian bawah paha
yang dapat disangga.
Pengukuran panjang alas duduk dapat
didekati dengan panjang pantat popliteal (jarak horisontal dari bagian terluar
pantat sampai belakang lutut),
c. Lebar
alas duduk
Fungsi dari lebar alas duduk adalah
sebagai penyangga daerah pinggul dan paha bagian bawah. Alas duduk yang cukup
lebar tidak menjadi masalah tetapi harus disesuaikan juga dengan luas
ruangan.Lebar alas duduk dapt didekati dengan lebar pinggul.
d. Sandaran punggung
Sandaran punggung pada dasarnya dibuat
untuk menyangga lumbar. Bentuk sandaran punggung tersebut dapat mensekati
tulang belakang namun perancangan harus tetap memungkinkan pemakai untuk
mengubah posisinya.Kelonggaran ruang sekitar pantat harus ada dan dapat berupa
ruang kosong antara alas duduk sampai lumbar.
e. Sandaran
tangan
Fungsi sandaran tangan antara lain untuk
menyangga berat tangan, membantu seseorang untuk duduk dan bangkit dari tempat
duduknya, serta mempermudah tubuh untuk memperoleh keseimbangan.. Dari sisi
kesehatan sandaran tangan akan memberi pengurangan yang berarti pada kerja otot
didaerah leher dan bahu.
Pengukuran sandaran tangan dapat
didekati dengan mengukur tinggi,sisi duduk sampai ujung alas duduk bagian
depan.Jarak antara sandaran tangan disesuaikan dengan lebar alas duduk dan tidak
membatasi ruang gerak pemakai.
f. Kemiringan
alas duduk dan sandaran punggung
Kemiringan yang tidak sesuai pada alas
duduk dan sandaran punggung akan berdampak buruk pada lumbar, akibatnya tekanan
kompresi yang diterima pada umumnya tempat duduk dimiringkan 5° kearah belakang
untuk mengurangi kemungkinan pemakai meluncur kedepan,sedangkan sandaran
punggung mempunyai kemiringan 15°30°.
Untuk menentukan relief sandaran punggung digunakan
data postur tubuh yang terdiri dari;
·
Tingggi cekungan lumbar (TPI)\
Adalah jarak vertikal yang diukur dari
permukaan duduk sampai cekungan terdalam dari lumbar. Ukuran ini digunakan
untuk menentukan posisi lekukan dari permukaan duduk.
·
Tinggi punggung terluar (TPU)
Adalah jarak vertikal yang diukur dari
permukaan duduk sampai bagian terluar dari punggung yang menyinggung garis
L.Untuk mengukur ini digunakan untuk menentukan posisi sandaran punggung.
·
Kedalam cekungan lumbar (PPL)
Adalah jarak yang diukur dari garis L
sampai titik terdalam cekungan lumbar. Ukuran ini digunakan untuk menentukan
kedalaman lekuken sandaran untuk menyangga daerah lumbar.
2.8 Uji
Kenormalan Data
Uji kenormalan data dilakukan untuk mengetahui
apakah data antropometri yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau
tidak. Dalam hal ini hipotesis awal (H0) menyatakan data berdistribusi
normal,sedangkan hipotesis tandingan (H1) menyatakan data tidak berdistribusi
normal.
Langkah-langkah untuk melakukan uji kenormalan data
sebagai berikut ;
·
Mengelompokan data kedalam kelas
1.
Dicari selisih antara data terbesar dan
data yang terkecil.selisih ini disebut jangkauan (R).
2.
Banyaknya kelas yang dibutuhkan dicari dengan
rumus;
K
= 1 +(3,3 log N).........................................................(2.1)
K
= Banyaknya interval kelas
N
= Banyaknya data pengamatan
3.
Interval kelas ( Ci ) dicari dengan
rumus
4.
Ci = R/.......................................................................
(2.2)
a.
Mencari frekuensi observasi (Fi) dan frekuensi
harapan (ei) untuk tiap– tiap kelas. Frekuensi harapan dari tiap – tiap kelas .
frekuensi harapan dari masing – masing interval kelas dihitung dengan rumus :
Ei = Pi x N .....................................................................................
(2.3)
Pi = Besarnya
kemungkinan dari kelas ke-I
N = banyaknya
pengamatan.
b.
Harga diatas dibandingkan dengan harga l
2 tabel yang didapat dari tabel chisquare. Bila l 2 hitung > l 2
tabel maka H0 ditolak, berarti data tersebut tidak berdistribusikan normal.
Sebaliknya jika l 2 hitung < l 2 tabel maka H0 diterima, berarti data
berdistribusi normal.
3. Uji
Kecukupan Data
Uji kecukupan
data untuk mengetahui apakah data telah mencukupi. Dengan tingkat keyakinan k
dan tingkat ketelitian s uji kecukupan data dilakukan dengan rumus :
Apabila N’ <
N berarti banyaknya data pengukuran telah mencukup
4. Uji
Keseragaman Data
Uji keseragaman data
dilakukan untuk mengetahui apakah data yang didapatkan tersebut seragam
2.9 Penelitian
Terdahulu
|
No
|
Penelitian
|
Judul
|
Variabel
|
Hasil Penelitian
|
|
1
|
Muhammad
Hanafi (2010)
|
Perancangan ulang fasilitas kerja alat pembuat
gerabah dengan mempertimbangkan aspek ergonomi
|
Perancangan
ulang fasilitas (X1)
evaluasi
(X2)
aspek
ergonomi
(Y)
|
alat hasil redesign
pada
penelitian ini
akan lebih tepat jika dilakukan penilaian dengan menggunakan metode REBA (Rapid
Entire Body Assesment). Karena pada perancangan alat yang baru posisi
kaki pekerja tidak hanya diam saja, tetapi mengayuh putaran bawah.
|
|
2
|
Arief
Subyantoro (2009)
|
Analisis Ergonomi Terhadap Rancangan
Fasilitas Kerja Pada Stasiun Kerja
Dibagian
Skiving Dengan Antropometri Orang Indonesia
|
Analisis
ergonomi (X1)
Rancangan
fasilitas kerja pada stasiun kerja dibagian skiving(Y)
|
Setelah redesain, dilakukan kembali
analisa yang meliputi analisa physiological performance dimana besarnya
konsumsi energi yang dibutuhkan lebih kecil dari sebelum redesain ( 3,802
kcal / menit < 5,496 kcal / menit ), dan berdasarkan analisa subjektivitas
melalui penyebaran kuesioner Nordic Body Map untuk mengetahui keluhan rasa
sakit pada tubuh terhadap operator setelah redesain diperoleh hasil rata-rata
tingkat keluhan jauh lebih rendah dari kondisi sebelum redesain. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil redesain stasiun kerja lebih ergonomis dari stasiun
kerja sebelum redesain.
|
|
3
|
Haryanto
(2009)
|
Perancangan
Stasiun Kerja Yang Ergonomis dalam Pelayanan Jasa Penyewaan Internet di
Warnet Bina Boyolali
|
Pelayanan
Jasa Penyewaan Internet Bina Boyolali (X1)
Stasiun
Kerja yang ergonomis(Y1)
|
Dengan
pendekatan rekayasa nilai dapat dibandingkan antara nilai desain meja,kursi
saat ini dengan
hasil
rancangan. Desain meja, kursi saat ini mempunyai nilai lebih kecil dari pada
desain hasil
rancangan. Hal
ini menunjukkan bahwa desain stasiun kerja usulan lebih baik dari pada
stasiun kerja
aktual.
|
|
4
|
Eko
Sriwahyudi
(2010)
|
perancangan ulang tata letak fasilitas produksi di cv. dimas rotan
gatak sukoharjo
|
Perancangan
ulang tata letak (X1)
tata letak fasilitas produksi di cv. dimas rotan
gatak sukoharjo (Y1)
|
Perancangan
tata letak meliputi pengaturan tata letak fasilitas-fasilitas
operasi dengan
memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin, bahan-bahan
perlengkapan untuk operasi, dan semua peralatan yang digunakan dalam proses
operasi. Salah satu tujuan dari perancangan tata letak fasilitas produksi
adalah penggunaan ruangan yang lebih efektif
|
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Lokasi
Penelitian
Untuk
mendapatkan data-data yang diperlukan, penulis mengambil data yang akurat ke
lokasi penelitian, kegiatan penelitian ini dilakukan di Warnet Fachry Center
yang terletak di jalan Bangau Sakti, Panam, Pekanbaru.
3.2
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
Warnet Fachry Center yang pengunjungnya berjumlah 58 orang tiap minggunya.
Untuk menentukan ukuran besaran sampel berdasarkan
rumus Slovin (Sarjono Haryadi dan Winda Julianita, 2011 : 30), yaitu:
n
= N
1 + N.e2
n =
58
1
+ 58 (10%)2
n =
1,58
n =
2 orang (dibulatkan)
Keterangan :
n
= Jumlah Sampel
N
= Jumlah Populasi
e =
Batas ketelitian yang diinginkan.
Dengan
teknik pengambilan sampel slovin yakni dengan menjadikan 58 karyawan menjadi 2
karyawan yang akan menjadi responden penelitian.
3.3 Jenis
dan sumber data
Adapun jenis dan sumber data yang dikumpulkan
penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Data primer
Data yang diperoleh
dengan hasil pengamatan penelitian yang berkaitan langsung dengan permasalahan
yang dihadapi. Adapun data primer yang dikumpulkan berupa tanggapan pengunjung tentang
kenyamanan saat berinternet di Fachry Center
2.
Data Sekunder
Data
sekunder adalah data yang diperoleh untuk melengkapi data primer yang
didapatkan untuk mendukung dan menjelaskan masalah yaitu sumber data yang penulis
peroleh dari Fachry Center.
3.4 Teknik
pengumpulan data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan
penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Wawancara (Interview), yaitu metode pengumulan
data yang dilakukan dengan mewawancarai pihak perusahaan.
2.
Kuisoner, yaitu metode pengumpulan data dengan
mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada karyawan perusahaan dengan cara
membuat pertanyaan yang berupa angket yang berhubungan dengan masalah yang
sedang diteliti, kemudian angket disebarkan kapada seluruh responden agar diisi
berdasarkan instruksi yang terdapat pada angket tersebut.
3.
Observasi, yaitu metode pengumpulan data dengan
cara melakukan kunjungan dan pengamatan secara langsung dilokasi penelitian.
3.5
Skala
Pengukuran
Penelitian
ini mengunakan skala likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan 5 skala likert,
maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian
indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item
instrumen atau kuisoner yang dapat berupa pertanyaan. Adapun jawaban setiap
item yaitu sangat baik, baik, cukup baik,
kurang baik dan sangat kurang baik.
3.6
Teknik
Analisis Data
Dalam
menunjang proses analisis maka alat pengukur data harus terlebih dahulu diuji
validitas dan reabilitasnya. Jika pertanyaannya telah valid dan reable, berarti
pertanyaan tersebut sudah bisa digunakan untuk mengukur faktornya.
1.
Uji Validitas
Uji
Validatas dalam penelitian ini digunakan untuk menguji kevalitan kuisioner yang
akan disebarkan kepada para responden. Suatu kuisioner dikatakan valid jika
pertanyaan yang terdapat didalam kuisioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu
yang akan diukur oleh kuisioner tersebut. Validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Uji Validitas
dilakukan pada setiap butir instrument atau butir pertanyaan yang terkait
dengan variabel dengan menggunakan metode sekali ukur (one shoot method), dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai
berikut:
a.
Jika
rhitung positif dan
rhitung > rtabel
, maka butir pertanyaan tersebut valid.
b.
Jika
rhitung negatif
atau rhitung < rhitung, maka butir pertanyaan tersebut tidak valid (Pratisto
dalam Djatmiko 2009).
Untuk
memperoleh hasil yang valid dai uji valisitas peneliti menggunakan fasilitas
softwere SPSS (Statistical Package for Social Science).
2.
Uji Reliabilitas
Setelah
setiap instrumen valid melalui uji validitas maka setiap instrumen juga harus
memenuhi syarat Reliability atau instrument tersebut harus memiliki
ketepatan dan dapat dipercaya. Hasil pengukuran yang reliable hanya apabila
dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama
diperoleh hasil yang relative sama,
selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Menurut Ghozali dalam Anoki 2012, Dalam uji
reliabilitas terdapat dua cara perhitungan, yaitu :
a.
Repeated Measure atau pengukuran ulang
yaitu seorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan
kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya
b.
One
shot
atau pengukuran sekali disini pengukuran hanya sekali dan kemudian hasilnya
dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban
pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur
realibilitas dengan uji statistik Cronbach
alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan
nilai Cronbatch Alpha > 0,60. Realibilitas yang kurang dari 0,6
adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan realibitias dengan cronbach’s alpa 0,8 atau diatasnya
adalah baik.
3.
Analysis jalur (path analysis)
Analysis jalur
atau path analysis digunakan untuk pola hubungan antara variabel. Model ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung antara
variabel bebas terhadap variabel terikat menurut Riduwan dan kuncoro, 2008:2
(dalam Haryadi sarjono dan winda julianita, 2011:117).
Teknik analisis
jalur yang akan digunakan dalam penguji besarnya sumbangan kausal antar
variabel X1, X2 terhadap Y dan Z.
Menurut Mueller
dalam Sugiarto (2006:93), path analysis (analisis jalur) dikembangkan sebagai
metode untuk mempelajari pengaruh (efek) secara langsung atau tidak langsung
dari variabel bebas terhadap variabel tergantung (terikat).
Asumsi – asumsi
peth analysis antara lain adalah sebagai berikut:
1.
Hubungan antara variabel bersifat linear
dan adaptif (mudah menyesuaikan diri).
2.
Data yang digunakan berdistribusi
normal, valid dan reliabel.
3.
Adanya recurivitas, yaitu suatu keadaaan
dimana anak panah mempunyai hubungan satu arah dan tidak boleh terjadi
pemutaran kembali (looping).
4.
Variabel terikat (endogen) setidaknya
atau minimal dalam ukuran interval dan rasio.
5.
Menggunakan sampel probability sampling,
yaitu teknik pengambilan sample untuk memberikan peluang yang sama pada setiap
anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Menurut Riduwan
dan Kuncoro (2008:116), koefisien jalur (path) adalah koefisien regresi yang
distandarkan, yaitu koefisien regresi yang dihitung dari basis data yang telah
diset dalam angka baku atau Z-score (data yang diset dengan nilai rata-rata = 0
dan standar deviasi = 1).
DAFTAR
PUSTAKA
Nurmianto,
Eko.2001 “Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya”. Surabaya: Guna Widya,
Priyino,
Ari.2007 “Perancangan Ulang meja Dan Kursi Belajar Ditinjau Dari Aspek Ergonom”i.
Skripsi
tidak dipublikasikan. Surakarta,
Sutalaksana, I.Z
1979.”Teknik Tata Cara Kerja. Laboratorium Tata Cara Kerja dan Ergonomi” Dept. Teknik IndustriITB,
Sriwarno,.Andar
Bagus,1998 “Pengantar Studi Perancangan Fasilitas Duduk” Bandung :
Penerbit ITB
Tim Penyusun,
2002, 2003 Modul praktikum Analisa Perancangan Kerja dan Ergonomi, UNS Surakarta
Wignjosoebroto,
Sritomo.1995 “Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu” Surabaya: Guna Widya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar