Sabtu, 01 Desember 2018

ANALISIS STASIUN KERJA YANG ERGONOMIS DALAM PELAYANAN JASA PENYEWAAN INTERNET DI WARNET FACHRY CENTER


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kebutuhan dalam sarana informasi dari hari ke hari akan terus meningkat dan berkembang sejalan berkembangnya teknologi telekomunikasi dibidang multimedia. Dari berbagai macam teknologi bahwa via internet yang paling berkembang pesat. Selain cepat dan praktis para pemakai juga dapat memperoleh informasi yang aktual secara global dan dapat juga dilakukan berbagai transaksi via internet.
 Menanggapi kemajuan internet yang begitu pesat dan juga besarnya kebutuhan masyarakat akan penggunaan jasa internet maka belakangan ini banyak dibuka warung internet. Sehingga warung internet ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat yang menggunakan jasa internet ,terutama bagi mereka yang tidak memiliki komputer pribadi atau juga memiliki komputer yang tidak dilengkapi sarana internet.
 Dalam mendirikan sebuah warung internet yang cukup memadai tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Namun banyak warung internet dalam mendesain stasiun kerjanya kurang ergonomis, sehingga menimbulkan keluhan-keluhan bagi konsumen. Warung internet Fachry Center didirikan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen. Pemilik ingin memberikan pelayanan yang terbaik. Yaitu dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang dapat menarik konsumen. Diantaranya akses internet yang cepat, ruangan luas dan nyaman. Dengan adanya fasilitas yang ditawarkan diharapkan konsumen akan betah dan nyaman. Namun dalam mendesain pemilik warung internet  Fachry belum memperhatikan antara ukuran meja ,tinggi kursi, tinggi keyboard, jarak mata dengan monitor,dan ruangan. hal ini dapat menimbulkan keluhan bagi pemakai.. Keluhan-keluhan yang timbul biasanya sakit pada bagian punggung, pada pinggang, pada lengan karena adanya pembebanan otot statis, keluhan pada mata karena jarak mata dengan monitor yang kurang pas, dan adanya keluhan pada otot kaki karena kursi yang tidak sesuai ataupun ruangannya. Sehingga menimbulkan kurang kenyamanan konsumen.
Desain warung internet harus memperhatikan kenyamanan dan privasi pemakainya. Kenyamanan konsumen dipengaruhi oleh lingkungan sekitar seperti temperatur, pencahayaan, kebisingan, tinggi kursi terhadap tinggi meja, lebar kursi,tinggi keyboard,dan jarak pandang mata terhadap monitor. Oleh karena itu dalam perancangan stasiun kerja pada penyewaan jasa internet perlu memperhatikan kenyamanan bagi pengguna jasa internet bertujuan untuk menarik perhatian konsumen dan untuk pengguna agar pemakaiannya selama mungkin.
Menanggapi kemajuan internet yang begitu pesat dan besarnya kebutuhan masyarakat akan pengguna jasa internet maka saat ini banyak dibuka warung-warung internet. Banyak warung internet dalam mendesain stasiun kerjanya kurang ergonomis sehingga sering menimbulkan keluhan bagi pemakai.
Berkomputer dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomis merupakan cara untuk menghindari ketidaknyamanan yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan kesehatan. Berikut beberapa cara kerja dan pengaturan tempat maupun perangkat kerja yang akan mampu menghindarkan anda dari ketidaknyamanan berkomputer.
Pada penelitian kali ini, yang menjadi objek penelitian yaitu sebuah warnet “Fachry Center” di Bandung. Saat ini warnet tersebut menyediakan fasilitas game online, seperti Ragnarok, General Conquere, dan lain sebagainya.Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan kepada pemilik, penjaga dan pengunjung warnet, ditemukan banyak keluhan-keluhan akan ketidak nyamanan ruangan tersebut. Keluhan-keluhan tersebut dapat
disebabkan karena ketidak ergonomisan fasilitas dan tata letak fasilitas, pengaturan suhu dan kelembaban serta pencahayaan yang kurang diperhatikan. Diharapkan dengan dilakukannya perancangan fasilitas, tata letak fasilitas dan kondisi lingkungan, maka ruangan warnet tersebut menjadi lebih baik, nyaman, dan sirkulasi udara menjadi lancar. Pengguna warnet merasa lebih santai dan nyaman sehingga dapat menggunakan fasilitas internet tersebut dengan lebih lama.
Warung internet ini mendapatkan tanggapan yang antusias dari para pengguna internet dan game online bagi yang tidak memiliki komputer pribadi tanpa koneksi internet di rumah atau sekedar ingin menghabiskan waktu luang dengan bermain game online bersama teman. Hal yang penting dalam mendirikan warung internet adalah memperhatikan kenyamanan dan privasi dari Operatornya. Pemilik warung internet perlu memperhatikan hal ini agar dapat menarik lebih banyak konsumen dan membuat mereka betah dan nyaman di dalam warung internet dalam waktu yang lama, oleh karena itu diperlukan pengembangan produk yang dapat berfungsi mengurangi keluhan yang ditimbulkan dari aktivitas mengoperasikan komputer dan memberikan kenyamanan bagi Operator. Perbandingan antara meja dan kursi warung internet yang sudah ada dengan yang inovasi yaitu terletak pada sandaran kaki dan sandaran punggung kursi yang dinamis. Rancangan desain meja dengan sandaran kaki diharapkan mampu mengurangi keluhan pada anggota tubuh seperti rasa pegal di betis dan bagian kaki lainnya, rancangan desain kursi dengan sandaran punggung dinamis yang mengikuti dan mengimbangi gerakan bentuk punggung dengan sandaran tangan/sandaran siku diharapkan dapan mengurangi keluhan pada anggota tubuh seperti lengan, bahu, pinggang, punggung dan lain-lain.

Walaupun sudah banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pemakaian meja dan kursi computer warnet, namun belum banyak yang menyadari bahwa pemakaian meja dan kursi computer warnet juga dapat menimbulkan masalah tersendiri. Masalah yang dimaksudkan adalah ketidak nyamanan yang disebabkan oleh pemakaian meja dan kursi computer warnet, terutama bila memakai dengan meja dan kursi computer warnet dalam waktu yang lama secara terus menerus.

Adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap rancangan fasilitas kerja yang digunakan oleh konsumen dengan pertimbangan pertimbangan yang telah dikemukakan diatas. Perbaikan yang akan dilakukan adalah dengan merancang ulang meja komputer dan menambahkan rancangan fasilitas kursi yang sesuai dengan data antropometri. Perbaikan pada fasilitas stasiun kerja tersebut maka diharapkan pekerjaan dapat dilakukan dalam posisi yang lebih nyaman.

1.2              Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu       :
·         Bagaimana merancang merancang dan membuat meja untuk pelanggan warung internet yang ergonomis dengan menggunakan pengolahan data antropometri untuk menghasilkan rancangan meja dan kursi yang nyaman bagi pengunjung warnet.
·         Apa saja dimensi tubuh yang digunakan dalam perancangan dan pembuatan meja dan kursi warnet.
1.3              Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk melihat desain kursi kerja yang layak berkaitan dengan unsur kesehatan tubuh guna menjaga kekuatan tulang belakang. Sikap duduk yang baik bisa mempengaruhi kesehatan organ-organ tubuh yang lain. Kebutuhan bentuk dan ukuran kursi seseorang akan berubah karena usia bertambah, kesehatan dan sebagainya.

1.4              Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gmbaran secara umum bagian-bagian yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka peneliti menguraikan secara ringkas isi masing-masing poin dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
            Berisi mengenai penjelasan latar belakang pemilian judul,perumusan masalah serta tujuan dan manfaat penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
            Berisi penejelasan mengenai landasan teori yang mendasari penelitian, tinjauan umum mengenai variabel dalam penelitian, pengembangan, tinjauan umum mengenai variabel dalam penelitian, pengembangan kerngka pemikiran serta hipotesis penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
            Berisi penjelasan mengenai variabel penelitian dan defenisi operasional variabel, populasi, dan sampel penelitian, jenis dan sumber data dari variabel penelitian, metode pengumpulan data yang digunakan, metode analisis dalam penelitian.







BAB II
LANDASAN TEORI

Bab ini membahas konsep-konsep berkaitan dengan objek penelitian yang dilakukan. Teori pendukung yang dibahas dalam bab ini antara lain tentang konsep ergonomi, dan antropometri.

2.1       Ergonomi
Istilah ergonomi diambil dari bahasa Yunani yaitu “ergo”yang berarti kerja dan “nomos”yang berarti hukum alam. Istilah tersebut mulai di cetuskan pada tahun 1949. Jadi ergonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, manajemen, dan desain atau perancangan termasuk didalamnya mengenai peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada saat manusia bekerja (Nurmianto,1996).
Ergonomi sebagai suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat ,kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan kerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekarjaan itu dengan efektif,aman dan nyaman.
Maksud dan tujuan utama dari pendekatan disiplin ergonomi diarahkan pada upaya untuk memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, ketelitian dan keselamatankerja. Selain itu juga bertujuan untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan, mengurangi kelelahan yang terlalu cepat, memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan manusia(human error). Umumnya penerapan ergonomi ditandai dengan aktivitas rancang bangun(design) dan rancang
ulang (redesign). Aktivitas ini dapat meliputi design perangkat keras, misal perangkat kerja ,pegangan alat kerja atau workholder, dan sebagainya.
Berdasarkan pernyataan diatas ,telah dijelaskan bahwa sasaran ergonomi yaitu efektifitas dan efisiensi kerja. Ergonomi mengusahakan agar tenaga kerja dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi dalam suasana tenteram,nyaman dan aman.


2.2       Pebebanan otot secara statis pada saat melakukan kerja
Beban otot statis terjadi ketika otot dalam keadaan tegang (tension)tanpa menghasilkan gerakan tangan dan kaki (limbs) sekalipun. Penggerak rithmik (berirama) yang dinamis adalah proses pemompaan aliran darah oleh organ tubuh manusia. Beban otot statis terjadi jika postur tubuh berada dalam kondisi yag tidak natural ,peralatan material ditahan pada posisi yang berlawanan dengan arah
grafitasi.

2.3       Antropometri
Aspek aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas pada dekade sekarang ini adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukuran anthropometri tubuh operator maupun penerapan datadata operatornya.

Istilah anthropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara definitif anthropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada umumnya memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, berat) yang berbeda satu dengan yang lainnya. Anthropometri secara luas digunakan sebagai pertimbanganpertimbangan ergonomis dalam proses perancangan produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
·         Perancangan areal kerja
·         Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas.
·         Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja, komputer, dan lain-lain.
·         Perancangan lingkungan kerja fisik.

Oleh karena itu perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan. Secara umum sekurang-kurangnya 90%- 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk harus mampu produk hasil rancangan dengan nyaman (comfortable) dan aman.

Menurut Nurmianto (1998), antropometri adalah sekumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia,ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.Penerapan data antropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi dari suatu distribusi normal. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonimis dalam proses perancangan produk maupun sistem kerja yang memperlukan interaksi manusia. Data antropometri yang diperoleh dapat diaplikasikan secara luas dalam hal   :
·         Perancangan area kerja seperti stasiun kerja,seperti jasa internet dll.
·          Perancangan peralatan kerja seperti mesin,perkakas dll.
·         Perancangan produk konsumtif seperti pakaian kursi meja.
·         Perancangan lingkungan kerja fisik.

Dengan demikian disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan ukuran, bentuk dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan memakai produk tersebut.
Menurut Sutalaksana (1979) untuk mendapatkan data antropometri maka dilakukan pengukuran dimensi tubuh manusia,untuk itu terdapat dua cara melakukan pengukuran yaitu;
a.        Antropometri statis
Antropometri statis sehubung dengan pengukuran keadaan dan ciriciri Fisik manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi standar.Posisi standar dapat dibedakan atas dua jenis yaitu posisi standar duduk dan posisi standar berdiri.
b.      Antropometri dinamis
Antropometri dinamis sehubungan dengan pengukuran keadaan dari ciri-ciri Fisik manusia dala keadaan bergerak atau memperhatikan gerakangerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melakukan kegiatan.hal ini ditekankan pada pengukuran yang berkaitan dengan gerakan yang nyata.

Selain faktor-faktor tersebut masih ada faktor lain yang mempengaruhi variabilitas ukuran tubuh manusia yaitu    :
1.      Keacakan /Random
Walupun sudah berada dalam suatu populasi yang sudah jelas sama jenis kelaminnya suku atau bangsa,kelompok usia dan pekerjaan, namun masih akan ada perbedaan yang signifikan antara berbagai macam masyarakat.
2.       Jenis kelamin
Secara distribusi ststistik ada perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh pria dan wanita .Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen tubuhnya dari pada wanita.
3.      Suku bangsa
Variasi diantara beberapa kelompok suku bangsa telah menjadi hal yang tidak kalah pentingnya terutama karena meningkatnya jumlah migrasi dari suatu negara ke negara lain.
4.      Usia
Digolongkan beberapa kelompok usia yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.hal ini jelas berpengaruh terutama jika desain diaplikasikan untuk antropometri Anak-anak.
5.      Jenis pekerjaan
Beberapa jenis pakerjaan tertentu menurut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan /stafnya.Seperti misalnya buruh dermaga atau pelabuhan harus menpunyai postur tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya.
6.      Pakaian
Hal ini juga merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya iklim yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya terutama untuk daerah yang mempunyai empat musim,hal ini akan mempengaruhi cara berpakaiannya.
7.      Cacat tubuh secara fisik
Suatu perkembangan yang menggembirakan pada dekade terakir ini dengan diberikan skala prioritas pada rancangan bangun fasilitas akomodasi untuk para penderita cacat secara fisik sehingga mereka dapat ikut serta merasakan kesamaan dalm penggunaan jasa dari hasil ilmu ergonomi didalam pelayanan untuk masyarakat.

Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar menfaatnya pada suatu perancangan produk atau fasilitas kerja akan dibuat agar perancangan produk nantinya dapat sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan menggunakanya. Dalam pemakaian data antropometri tersebut terdapat tiga prisip;

1.      Perancangan berdasarkan individu ekstrim
Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan fasilitas yang dirancang dapat  digunakan dengan nyaman oleh sebagian besar orang yang memakainya.Rancangan produk bagi indvidu dengan ukuran ekstrim ini dibuat agar bisa mempenuhi dua sasaran produk yaitu;
a.    Dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil jika dibandingkan dengan rata-rata.
b.    Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain(mayoritas dari populasi yang ada).

Agar bisa memenuhi sasaran produk tersebut maka ukuran diaplikasikan dengan cara :
1.      Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai persentil terbesar seperti 90 persentil, 95 persentil,dan 99 persentil. Contoh kongkrit untuk kasus ini adalah pada penentuan ukuran minimum untuk lebar dan tinggi pintu.
2.      Untuk dimensi maksimum yang harus diterapkan diambil berdasarkan nilai persentil terkecil seperti 1 persentil, 5 persentil, 10 persentil,dari distribusi antropometri yang ada. Segai contoh hal ini diterapkan dalm penetapan jarak jangkauan dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

2.      Perancangan fasilitas yang disesuaikan
Desain ukuran yang dapat disesuaikan untuk ukuran minimum sampai ukuran maksimum, dari persentil terkecil sampai persentil terbesar. Prinsip ini hanya dapat digunakan untuk merancang fasilitas bisa menampung atau dapat dipakai dengan nyaman oleh semua orang yang mungkin mengunakanya pada pengguna kursi mobil yang bisa diatur maju dan mundur.Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel, maka data antropometri yang umum dipakai adalah rentang nilai 5 persentil dan 95 persentil.

3.      Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata pemakai
Dalam ukuran ratarata dari ukuran tubuh menggunakan 50 persentil ini hanya bisa digunakan bila perancangan derdasarkan harga ekstrim tidak mungkin bisa dilakukan dan tidak layak jika menggunakn prinsip paerncangan fasilitas yang bisa disesuaikan.

2.4       Pengukuran Data Antropometri Pada Tubuh Manusia

Pada umumnya manusia berbeda dalam hal bentuk dan ukuran tubuh. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, seperti yang telah dijelaskan diatas diantaranya, yaitu umur, jenis kelamin, suku bangsa, dan posisi tubuh. Posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh yang digunakan. Oleh karena itu dalam antropometri dikenal dua cara pengukuran, yaitu :

1.      Pengukuran dimensi struktur tubuh (structural body dimension)
Tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak. Istilah lain untuk pengukuran ini dikenal dengan ‘static anthropometri’. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang  berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut berdiri maupun duduk, panjang lengan dan sebagainya.
2.      Pengukuran dimensi fungsional (functional body dimension)
Pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat melakukan gerakangerakan tertentu. Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang berkaitan dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.

Pengukuran dimensi struktur tubuh yang biasa diambil dalam posisi duduk dapat dilihat pada gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Gambar antropometri tubuh manusia yang biasa diukur dalam posisi duduk(Roymech, 2005)

Keterangan dari gambar 2.1 :
1 = tinggi duduk tegak dan tinggi duduk normal
2 = tinggi mata duduk
3 = tinggi bahu duduk
4 = tinggi siku duduk
5 = tebal paha
6 = jarak pantat ke popliteal
7 = jarak pantat ke lutut
8 = tinggi popliteal
9 = tinggi lutut
10 = lebar dada
11 = panjang kepala
12 = lebar pundak
13 = lebar kepala
14 = lebar bahu
15 = lebar pinggul
16 = jangkauan tangan ke atas
17 = jarak siku ke pundak
18 = jarak siku ke ujung jari

2.5       Ketingian bangku atau kursi kerja         
 Ada beberapa macam dasar untuk menentukan ketinggian permukaan kerja
yaitu ;
1.      Bangku atau mesin yang tepat bekerja sambil berdiri (walaupun duduk dan berdiri bergantian adalah suatu hal yang mungkin dan diikuti dengan tersedianya kursi yang sesuai)
2.      Bangku atau kursi yang disesuaikan hanya untuk pekerjaan sambil duduk

Prinsip-prinsip yang diterapkan dalam perancangan untuk ketinggian 2 jenis permukaan kerja:
a.       Hindari beban otot yang terlalu berat yang disebabkan oleh lengan atas yang disampingkan terlalu tinggi dalam pekerjaan keyboard, pergeseran lengan atas yang sering terjadi akan menyebabkan timbulnya keharusan utuk deviasi luar yaitu penyimpangan pergelangan tangan kearah kelingking.
b.      Hindari tekanan tajam pada sisi lengan dengan bagian bawah pinggiran bangku, jika permukaan tempat kerja terlalu tinggi.
c.       Hindari posisi membungkuk secara terus menerus jika permukaan tempat kerja terlalu tinggi.

Sedangkan untuk stasiun kerja komputer, pengaruhnya adalah sebagai berikut;
1.      Ketinggian kursi diatur sehinga kaki membentuk sudut (90) dan tekanan pada bawah paha merata.
2.       Naik turunkan sandaran punggung sehingga menopang daerah lumbar.
3.       Maju mundurkan sandaran punggung senyaman mungkin.
4.       Atur ketinggian meja kerja sehingga siku bersudut 90.
5.      Pilih jarak permukaan monitor yang sesuai.
6.      Letakkan monitor disebelah kiri atau kanan sesuai keinginan operator komputer.
7.       Atur ketinggian monitor sehingga sudut pengelihatan berkisar 0-20 dari garis horisontal.
8.      Pilih permukaan monitor seingga membentuk sudut 90 relatif terhadap garis pengelihatan.

2.6       Fisiologi Duduk
2.6.1    Prinsip Dasar
Duduk merupakan salah satu alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan posisi berdiri tegak.Pada saat berdiri,sendi kaki,lutut seta pinggul berada dalam suatu keadaan sedemikian rupa sehingga badan dapat berdiri tegak ditopang oleh sejumlah otot statis, aliran darah dan cairan jaringan cenderung berakumulasi pada kaki.Keadaan demikian akan berkurang pada saat duduk karena otot pada keadaan santai serta adanya tekanan hidrostatis yang menurun pada pembuluh darah kaki,
sehingga hambatan alian darah kejantung lebih baik pada saat duduk. Ketika duduk, keja otot statis akan jatuh berkurang sehinga akan megurangi penggunaan energi yang cukup basar (Nurmianto,1996).

2.6.2    Konsep kesetimbangan Duduk
Posisi duduk melibatkan beberapa tulang, antara lain lumbar, pelvis, dan sambungan pinggul. Perubahan dari sikap berdiri ke posisi duduk akan menyebabkan sambungan paha bergarak 60° , hal ini terjadi karena bentuk lumbar yang jadi rata sudut 90° dibentuk oleh badan dan paha pada dasarnya terdiri atas 60° perputaran sendi pinggul, dibantu melurusnya kurva ruas tulang belakang (lumbar) yang memungkinkan pelvis bergerak sebesar 30°, hal ini dapat dilihat pada gambar 2.2
Gambar 2.2 Gambar Kesetimbangan

Perbedaan lain yang dapat diamati dari posisi berdiri dan duduk adalah perubahan tulang belakang. Pada saat berdiri tegak, daerah lumbar akan melengkung kearah dalam membentuk kurva cekung yang dinamakan lordosis, sedangkan pada saat duduk daerah lumbar akan melengkung karah
luar. Sikap duduk yang condong kedepan dengan membungkuk akan membuat kurva antara paha dan badan lebih keci dari 90° sehingga membentuk kurva cembung (kifosis).Kifosis lumbar akan megakibatkan terbentuknya piringan antara ruas tulang belakang.
Sikap duduk yang tegak memberikan tekanan kompresi pada piringan yang lebih kecil.Sikap ini membentuk adanya kerja statis sejumlah otot untuk mengkompresi perutaran pelvis kebelakang, akibatnya otot menjadi tegang dan akan terjadi kelelahan pada otot tersebut. Oleh karena itu sandaran punggung yang disesuaikan dengan daerah lumbar akan membantu memperlambat timbulnya
kelelahan.
Sikap duduk yang miring/condong kedepan umumnya dianggap sebagai suatu sikap relaksasi, walaupun demikian penyangga lumbar tetap diperlukan pada sikap ini. Bila tidak, lumbar akan menjadi lurus akibatnya tarikan gaya gravitasi akan diikuti oleh tegangan otot lumbar, sehingga menimbulkan kelelahan dan tekanan pada piringan ruas tulang belakang.
Menurut Nurmianto (1996) untuk mengurangi tekanan pada ruas tulang belakang, maka diperlukan sikap duduk yang benar. Hal ini dapat dicapai dengan menyelonjorkan kaki ke depan atau meletakkan sebelah lutut kaki keatas paha kaki lainnya. Ini merupakan usaha untuk memperbesar dasar penyangga tubuh, cenderung mengunci sejumlah sendi yang berkaitan dan mengurangi kerja otot untuk menyeimbangkan tubuh. Perubahan-perubahan postur tersebut berlangsung tanpa disengaja, hal ini sebagai internal posture programe yang memungkinkan badan untuk mencapai kestabilan dan variasi. Perubahan postur/posisi duduk akan menyebabkan terjadinya kesetimbangan tubuh, bila kesetimbangan duduk tidak diperoleh dari tempat duduk yang digunakan. Berdasarkan pada kenyataan tersebut maka hal penting yang harus diperhatikan dalam perancangan kursi adalah memperhatikan kemampuan elemen-elemen kursi untuk membentuk kesetimbangan pada saat seseorang duduk diatasnya.


2.7. Perancangan Kursi
Perancangan kursi yang tidak sesuai dengan ukuran atau bentuk tubuh pemakai dalam waktu yang cepat akan menimbulkan kelelahan. Posisi duduk yang benar jika hanya terjadi sedikit kurva pada daerah lumbar, seperti pada posisi berdiri. Pundak harus rileks dengan lengan atas dapat menggantung bebas, leher tidak terlalu banyak membungkuk saat bekerja.
Proses perancangan duduk dan fasilitas kerja dapat ditempuh melalui langkah sebagai berikut :
1.      Menentukan anggota tubuh yang akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
2.      Menentukan dimensi tubuh yang penting dala proses perancangan tersebut.
3.      Menentukan populasi yang diaktualisasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan tersebut
4.      Menentukan prinsip aturan yang harus diikuti apakah rancangan tersebut untuk ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel atau ukuran ratarata
5.      Memilih prosentase populasi yang harus diikuti
6.      Menetapkan nilai ukuran data antropometri yang sesuai dengan aplikasi data tersebut dan menambah faktor kelonggaran seperti penambahan ukuran akibat tebalnya pakaian, tingginya sepatu maupun penyusutan tubuh

Sejumlah prinsip yang diperlukan dalam melakukan perancangan kursi yang ergonomis menurut Nurmianto (1996) adalah :
a.       Tinggi alas duduk
Ditinjau dari konsep keseimbangan maupun sisi kesehatan, tinggi alas duduk yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan menimbulkan dampak yang kurang baik. Alas duduk yang terlalu tinggi dari lantai akan menyebabkan daerah popliteal tertekan dan akan menyebabkan terhambatnya sirkulasi darah.     
Sedangkan alas duduk yang terlalu rendah akan menyebabkan kaki melonjor kedepan dan cenderung menarik tubuh kedepan. Keadaan ini akan mengurangi memampuan kaki untuk memberi kestabilan pada tubuh.Secara antropometri tinggi alas duduk yang baik dapat didekati oleh tinggi popliteal (jarak yang diperoleh dari permukaan lantai kebagian bawah paha tepat dibelakang lutut).
b.      Panjang alas duduk
Panjang alas duduk sebagai salah satu ukuran turut memberi peluang munculnya ketidaknyamanan. Bila alas duduk yang terlalu panjang maka permukaan serta sisi depan kursi akan menekan daerah popliteal yang dapat menghambat aliran darah kekaki sehingga timbul iritasi dan ketidaknyamanan.kebiasan yang dilakukan untuk menghindari hal tersebut dengan menggeser kursi kedepan dan mnengakibatkan punggung tidak tersangga dengan baik, kestabilan tubuh berkurang sehingga diperlukan kerja otot untuk menjaga keseimbangan. Panjang alas duduk yang terlalu pendek juga tidak baik karena seseorang akan cenderung kedepan disebabkan kecilnya daerah bagian bawah paha yang dapat disangga.
Pengukuran panjang alas duduk dapat didekati dengan panjang pantat popliteal (jarak horisontal dari bagian terluar pantat sampai belakang lutut),
c.       Lebar alas duduk
Fungsi dari lebar alas duduk adalah sebagai penyangga daerah pinggul dan paha bagian bawah. Alas duduk yang cukup lebar tidak menjadi masalah tetapi harus disesuaikan juga dengan luas ruangan.Lebar alas duduk dapt didekati dengan lebar pinggul.
d.       Sandaran punggung
Sandaran punggung pada dasarnya dibuat untuk menyangga lumbar. Bentuk sandaran punggung tersebut dapat mensekati tulang belakang namun perancangan harus tetap memungkinkan pemakai untuk mengubah posisinya.Kelonggaran ruang sekitar pantat harus ada dan dapat berupa ruang kosong antara alas duduk sampai lumbar.
e.       Sandaran tangan
Fungsi sandaran tangan antara lain untuk menyangga berat tangan, membantu seseorang untuk duduk dan bangkit dari tempat duduknya, serta mempermudah tubuh untuk memperoleh keseimbangan.. Dari sisi kesehatan sandaran tangan akan memberi pengurangan yang berarti pada kerja otot didaerah leher dan bahu.
Pengukuran sandaran tangan dapat didekati dengan mengukur tinggi,sisi duduk sampai ujung alas duduk bagian depan.Jarak antara sandaran tangan disesuaikan dengan lebar alas duduk dan tidak membatasi ruang gerak pemakai.
f.       Kemiringan alas duduk dan sandaran punggung
Kemiringan yang tidak sesuai pada alas duduk dan sandaran punggung akan berdampak buruk pada lumbar, akibatnya tekanan kompresi yang diterima pada umumnya tempat duduk dimiringkan 5° kearah belakang untuk mengurangi kemungkinan pemakai meluncur kedepan,sedangkan sandaran punggung mempunyai kemiringan 15°30°.

Untuk menentukan relief sandaran punggung digunakan data postur tubuh yang terdiri dari;
·         Tingggi cekungan lumbar (TPI)\
Adalah jarak vertikal yang diukur dari permukaan duduk sampai cekungan terdalam dari lumbar. Ukuran ini digunakan untuk menentukan posisi lekukan dari permukaan duduk.
·         Tinggi punggung terluar (TPU)
Adalah jarak vertikal yang diukur dari permukaan duduk sampai bagian terluar dari punggung yang menyinggung garis L.Untuk mengukur ini digunakan untuk menentukan posisi sandaran punggung.
·         Kedalam cekungan lumbar (PPL)
Adalah jarak yang diukur dari garis L sampai titik terdalam cekungan lumbar. Ukuran ini digunakan untuk menentukan kedalaman lekuken sandaran untuk menyangga daerah lumbar.


2.8       Uji Kenormalan Data
Uji kenormalan data dilakukan untuk mengetahui apakah data antropometri yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau tidak. Dalam hal ini hipotesis awal (H0) menyatakan data berdistribusi normal,sedangkan hipotesis tandingan (H1) menyatakan data tidak berdistribusi normal.
Langkah-langkah untuk melakukan uji kenormalan data sebagai berikut      ;
·         Mengelompokan data kedalam kelas
1.    Dicari selisih antara data terbesar dan data yang terkecil.selisih ini disebut jangkauan (R).
2.     Banyaknya kelas yang dibutuhkan dicari dengan rumus;
K = 1 +(3,3 log N).........................................................(2.1)
K = Banyaknya interval kelas
N = Banyaknya data pengamatan
3.    Interval kelas ( Ci ) dicari dengan rumus
4.    Ci = R/....................................................................... (2.2)
a.    Mencari frekuensi observasi (Fi) dan frekuensi harapan (ei) untuk tiap– tiap kelas. Frekuensi harapan dari tiap – tiap kelas . frekuensi harapan dari masing – masing interval kelas dihitung dengan rumus :
Ei = Pi x N ..................................................................................... (2.3)
Pi = Besarnya kemungkinan dari kelas ke-I
N = banyaknya pengamatan.
b.    Harga diatas dibandingkan dengan harga l 2 tabel yang didapat dari tabel chisquare. Bila l 2 hitung > l 2 tabel maka H0 ditolak, berarti data tersebut tidak berdistribusikan normal. Sebaliknya jika l 2 hitung < l 2 tabel maka H0 diterima, berarti data berdistribusi normal.

3.      Uji Kecukupan Data
Uji kecukupan data untuk mengetahui apakah data telah mencukupi. Dengan tingkat keyakinan k dan tingkat ketelitian s uji kecukupan data dilakukan dengan rumus :
Apabila N’ < N berarti banyaknya data pengukuran telah mencukup
4.      Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang didapatkan tersebut seragam

2.9       Penelitian Terdahulu

No
Penelitian
Judul
Variabel
Hasil Penelitian
1
Muhammad Hanafi (2010)
Perancangan ulang fasilitas kerja alat pembuat gerabah dengan mempertimbangkan aspek ergonomi
Perancangan ulang fasilitas  (X1)
evaluasi (X2)
aspek ergonomi
(Y)

alat hasil redesign pada
penelitian ini akan lebih tepat jika dilakukan penilaian dengan menggunakan metode REBA (Rapid Entire Body Assesment). Karena pada perancangan alat yang baru posisi kaki pekerja tidak hanya diam saja, tetapi mengayuh putaran bawah.
2
Arief Subyantoro (2009)

 Analisis Ergonomi Terhadap Rancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Kerja
Dibagian Skiving Dengan Antropometri Orang Indonesia
Analisis ergonomi  (X1)
Rancangan fasilitas kerja pada stasiun kerja dibagian skiving(Y)


Setelah redesain, dilakukan kembali analisa yang meliputi analisa physiological performance dimana besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan lebih kecil dari sebelum redesain ( 3,802 kcal / menit < 5,496 kcal / menit ), dan berdasarkan analisa subjektivitas melalui penyebaran kuesioner Nordic Body Map untuk mengetahui keluhan rasa sakit pada tubuh terhadap operator setelah redesain diperoleh hasil rata-rata tingkat keluhan jauh lebih rendah dari kondisi sebelum redesain. Hal ini menunjukkan bahwa hasil redesain stasiun kerja lebih ergonomis dari stasiun kerja sebelum redesain.

3
Haryanto (2009)
Perancangan Stasiun Kerja Yang Ergonomis dalam Pelayanan Jasa Penyewaan Internet di Warnet Bina Boyolali
Pelayanan Jasa Penyewaan Internet Bina Boyolali (X1)
Stasiun Kerja yang ergonomis(Y1)

Dengan pendekatan rekayasa nilai dapat dibandingkan antara nilai desain meja,kursi saat ini dengan
hasil rancangan. Desain meja, kursi saat ini mempunyai nilai lebih kecil dari pada desain hasil
rancangan. Hal ini menunjukkan bahwa desain stasiun kerja usulan lebih baik dari pada stasiun kerja
aktual.
4
Eko Sriwahyudi
(2010)
perancangan ulang tata letak fasilitas produksi di cv. dimas rotan
gatak sukoharjo
Perancangan ulang tata letak (X1)
tata letak fasilitas produksi di cv. dimas rotan
gatak sukoharjo (Y1)

Perancangan tata letak meliputi pengaturan tata letak fasilitas-fasilitas
operasi dengan memanfaatkan area yang tersedia untuk penempatan mesin-mesin, bahan-bahan perlengkapan untuk operasi, dan semua peralatan yang digunakan dalam proses operasi. Salah satu tujuan dari perancangan tata letak fasilitas produksi adalah penggunaan ruangan yang lebih efektif

           








BAB III
METODE PENELITIAN


3.1        Lokasi Penelitian
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan, penulis mengambil data yang akurat ke lokasi penelitian, kegiatan penelitian ini dilakukan di Warnet Fachry Center yang terletak di jalan Bangau Sakti, Panam, Pekanbaru.
3.2       Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Warnet Fachry Center yang pengunjungnya berjumlah 58 orang tiap minggunya.
Untuk menentukan ukuran besaran sampel berdasarkan rumus Slovin (Sarjono Haryadi dan Winda Julianita, 2011 : 30), yaitu:
n =                           N                    
                     1 + N.e2          
n =               58                   
                               1 + 58 (10%)2
n =  1,58
n =  2 orang (dibulatkan)
Keterangan :
n   =   Jumlah Sampel
N  =   Jumlah Populasi
e   =    Batas ketelitian yang diinginkan.
Dengan teknik pengambilan sampel slovin yakni dengan menjadikan 58 karyawan menjadi 2 karyawan yang akan menjadi responden penelitian.           

3.3       Jenis dan sumber data
Adapun jenis dan sumber data yang dikumpulkan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.             Data primer
Data yang diperoleh dengan hasil pengamatan penelitian yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang dihadapi. Adapun data primer yang dikumpulkan berupa tanggapan pengunjung tentang kenyamanan saat berinternet di Fachry Center
2.             Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh untuk melengkapi data primer yang didapatkan untuk mendukung dan menjelaskan masalah yaitu sumber data yang penulis peroleh dari Fachry Center.


3.4       Teknik pengumpulan data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.             Wawancara (Interview), yaitu metode pengumulan data yang dilakukan dengan mewawancarai pihak perusahaan.
2.             Kuisoner, yaitu metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada karyawan perusahaan dengan cara membuat pertanyaan yang berupa angket yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti, kemudian angket disebarkan kapada seluruh responden agar diisi berdasarkan instruksi yang terdapat pada angket tersebut.
3.             Observasi, yaitu metode pengumpulan data dengan cara melakukan kunjungan dan pengamatan secara langsung dilokasi penelitian.

3.5         Skala Pengukuran
Penelitian ini mengunakan skala likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan 5 skala likert, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen atau kuisoner yang dapat berupa pertanyaan. Adapun jawaban setiap item yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik dan sangat kurang baik.


3.6         Teknik Analisis Data
Dalam menunjang proses analisis maka alat pengukur data harus terlebih dahulu diuji validitas dan reabilitasnya. Jika pertanyaannya telah valid dan reable, berarti pertanyaan tersebut sudah bisa digunakan untuk mengukur faktornya.
1.             Uji Validitas
Uji Validatas dalam penelitian ini digunakan untuk menguji kevalitan kuisioner yang akan disebarkan kepada para responden. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan yang terdapat didalam kuisioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Uji Validitas dilakukan pada setiap butir instrument atau butir pertanyaan yang terkait dengan variabel dengan menggunakan metode sekali ukur (one shoot method), dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:
a.              Jika  rhitung  positif dan  rhitung  >  rtabel  , maka butir pertanyaan tersebut valid.
b.             Jika  rhitung  negatif  atau  rhitung  <  rhitung,  maka butir pertanyaan tersebut tidak  valid (Pratisto dalam Djatmiko 2009).
Untuk memperoleh hasil yang valid dai uji valisitas peneliti menggunakan fasilitas softwere SPSS  (Statistical Package for Social Science).
2.             Uji Reliabilitas
Setelah setiap instrumen valid melalui uji validitas maka setiap instrumen juga harus memenuhi syarat  Reliability  atau instrument tersebut harus memiliki ketepatan dan dapat dipercaya. Hasil pengukuran yang reliable hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh  hasil yang relative sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Menurut Ghozali dalam Anoki 2012, Dalam uji reliabilitas terdapat dua cara perhitungan, yaitu :
a.              Repeated Measure atau pengukuran ulang yaitu seorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya
b.             One shot atau pengukuran sekali disini pengukuran hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan.  SPSS  memberikan fasilitas untuk mengukur realibilitas dengan uji statistik Cronbach alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbatch Alpha  > 0,60. Realibilitas yang kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan realibitias dengan cronbach’s alpa 0,8 atau diatasnya adalah baik.
3.             Analysis jalur (path analysis)
Analysis jalur atau path analysis digunakan untuk pola hubungan antara variabel. Model ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung antara variabel bebas terhadap variabel terikat menurut Riduwan dan kuncoro, 2008:2 (dalam Haryadi sarjono dan winda julianita, 2011:117).
Teknik analisis jalur yang akan digunakan dalam penguji besarnya sumbangan kausal antar variabel X1, X2 terhadap Y dan Z.
Menurut Mueller dalam Sugiarto (2006:93), path analysis (analisis jalur) dikembangkan sebagai metode untuk mempelajari pengaruh (efek) secara langsung atau tidak langsung dari variabel bebas terhadap variabel tergantung (terikat).
Asumsi – asumsi peth analysis antara lain adalah sebagai berikut:
1.             Hubungan antara variabel bersifat linear dan adaptif (mudah menyesuaikan diri).
2.             Data yang digunakan berdistribusi normal, valid dan reliabel.
3.             Adanya recurivitas, yaitu suatu keadaaan dimana anak panah mempunyai hubungan satu arah dan tidak boleh terjadi pemutaran kembali (looping).
4.             Variabel terikat (endogen) setidaknya atau minimal dalam ukuran interval dan rasio.
5.             Menggunakan sampel probability sampling, yaitu teknik pengambilan sample untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Menurut Riduwan dan Kuncoro (2008:116), koefisien jalur (path) adalah koefisien regresi yang distandarkan, yaitu koefisien regresi yang dihitung dari basis data yang telah diset dalam angka baku atau Z-score (data yang diset dengan nilai rata-rata = 0 dan standar deviasi = 1).






                                                        DAFTAR PUSTAKA                          


Nurmianto, Eko.2001 “Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya”. Surabaya: Guna Widya,

Priyino, Ari.2007 “Perancangan Ulang meja Dan Kursi Belajar Ditinjau Dari Aspek Ergonom”i.
Skripsi tidak dipublikasikan. Surakarta,
Sutalaksana, I.Z 1979.”Teknik Tata Cara Kerja. Laboratorium Tata Cara Kerja dan    Ergonomi” Dept. Teknik IndustriITB,

Sriwarno,.Andar Bagus,1998 “Pengantar Studi Perancangan Fasilitas Duduk” Bandung : Penerbit ITB

Tim Penyusun, 2002, 2003 Modul praktikum Analisa Perancangan Kerja dan Ergonomi, UNS Surakarta

Wignjosoebroto, Sritomo.1995 “Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu” Surabaya: Guna Widya

Analis Industri dan Pesaing

Langkah-langkah menganalisis pesaing ( Kotler ): – Mengidentifikasi pesaing – Menentukan sasaran pesaing – Mengidentifik...