Senin, 06 Juni 2016

Kasus Harga Kelompok 8 ,



1.1 LATAR BELAKANG
Semua organisasi, baik yang berusaha dengan tujuan laba ataupun tidak, akan selalu menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan penetepan harga atas barang atau jasa yang mereka tawarkan.
Penetapan harga jual ditetapkan oleh pembeli dan penjual dalam proses tawar menawar. Penjual akan meminta harga jual yang lebih tinggi dari yang diharapkan untuk diterima. Sedangkan pembeli akan menawar harga yang lebih rendah dari yang diharapkan untuk dibayar. Dengan terjadinya proses tawar menawar tersebut, akan mengantarkan mereka pada suatu kesepakatan harga.
Harga sering menjadi faktor penentu dalam pembelian. Dan harga jual masih merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan pangsa pasar dan tingkat keuntungan suatu perusahaan.
Harga adalah satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan. Masih banyak perusahaan di luar sana yang tidak mengarap masalah harga jual dengan baik. Kesalahan-kesalahan umumnya biasa terjadi pada penetapan harga yang mengarah pada biaya; harga jual kurang sering ditinjau padahal pasar selalu berubah; harga jual ditentukan secara tersendiri, lepas dari bauran pemasaran. Dan bukannya merupakan suatu unsur  yang terpadu dalam strategi penempatan-pasar;  harga jual kurang bervariasi bagi jenis produk dan segmen pasar yang berlainan.
Sebagai contoh perusahaan pendatang baru, yang bergerak dibidang industri rokok, Crystal tergolong produk sukses. Rokok kretek yang diluncurkan pada tahun 1991 itu setiap hari terjual 40 juta batang. Hebat jika diingat kebanyakan merek kretek baru hancur dipasaran. Kuncinya ada pada penetapan harga yang tepat. Dikutip dari Bambang Haryanto, “Saya melihat peluang industri rokok di kelas harga Rp 500 per bungkus isi 12 batang. Harga rendah ini bisa dijangkau oleh anak muda yang belum berpenghasilan.”
Malangnya, kesuksesan Crystal terganjal ketika Pemerintah menaikkan bea cukai rokok, sehingga harga rokok terpaksa dinaikkan menjadi Rp 600 per bungkus. Kenaikan yang tak seberapa ini ternyata berakibat besar. Terjadi keanjlokan dalam penjualan yaitu 25% menjadi 30 juta batang per hari. Meski sudah naik, namun tingkat penjualan sebelum kenaikan harga belum  tercapai.
Berikut dalam menurunkan penjualan, penetapan harga yang tidak tepat juga bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh kasus lain; Pos Kota sebagai harian yang merakyat dengan perwajahan gaya circus make up yang awalnya juga berhasil dengan harga yang sesuai bagi masyarakat, dengan memasang harga awal Rp 300. Masyarakat merasa jengkel ketika Pos Kota memasang harga baru Rp 10 di atas harga awal (menjadi Rp310). Langkah ini menjengkelkan konsumen dan merepotkan pengecer dalam mencari uang kembalian Rp 10 atau Rp 40. Karena itu, banyak konsumen yang menuntut harga semula. Akibatnya, para pengecer dirugikan karena incomenya berkurang.
Menurut Soegarti Soegianto, Direktur PT Media Antarkota Jaya, penerbit Pos Kota mengambil kebijakan tersebut karena, “Kenaikan Rp 10 sebenarnya atas permintaan agen dan subagen. Uang tersebut sama sekali tidak masuk ke kantong Pos Kota, tetapi akan disalurkan ke koperasi pengecer untuk membantu kesejahteraan pengecer. ” Tetapi tetap saja kebijakan ini menimbulkan penetepan harga yang tidak sesuai.
Kasus Anakmas lain lagi. Produsen makanan ringan anak-anak ini juga menghadapi masalah pada penetapan harganya akibat kenaikan biaya produksi. Pada saat harga Rp 100, ia menjadi salah satu menu utama jajanan anak-anak. Malapetaka terjadi ketika Sanmaru, sang produsen menaikkan harganya menjadi Rp 125. Penjualannya langsung anjlok turun menjadi 40%. Mengapa? Karena anak-anak akan repot dengan kembalian Rp 75 (harga semula Rp 100), yang pada akhirnya mereka akan memilih membeli jajanan lain yang harganya Rp 100 atau di atasnya.
Lain halnya pada perusahaan yang tergolong berhasil menerapkan strategi pricing yang baik seperti BASF. Perusahaan ini berhasil menetapkan harga yang sesuai walaupun masih tergolong baru di sekitar para pesaing, sebut saja: kelas kaset berkualitas (Maxell dan TDK) dan kelas kaset murah (Metro atau HDX dan Madia), dengan pembagian pasar kaset atas lagu Barat dan Indonesia.
Dalam hal ini BASF berhasil dalam menetapkan positioning-nya sebagai kaset lagu barat yang berkualitas dan bercitra tinggi meski pangsa pasarnya hanya 20%. Namun, karena sadar sebagai pendatang baru, mereka menarik konsumen besar dengan harga sedikit di bawah harga pesaing melalui diskon ke produsen rekaman sebesar 10%-15%, walaupun pada dasarnya BASF menetapkan harga di atas para pesaingnya. Tetapi, harga jual di pasar bebas, tetap diletakkan di atas harga para pesaingnya. Setelah orang mengenal BASF barulah, pelan-pelan diskon tersebut dihapus.
Sukses dengan kaset lagu barat, BASF masuk ke lagu indonesia, dengan cara menetapkan harga rendah, tetapi tetap menunjukkan bahwa lagu indonesia memerlukan kaset berkualitas. Upaya promosi pun dilakukan serta dengan menyelenggarakan BASF award dua tahun kemudian. Dan hasilnya semakin banyak produsen lagu indonesia yang merekam kaset pada BASF dan menguasai pasar 35%.
Contoh lain yang baik adalah Grup Indofood. Kunci suksesnya antara lain strategi harga yang tepat: Indomie di kelas atas, SuperMi di kelas bawah, dan Sarimi di kelas paling bawah. Produk tersebut ditetapkan melalui riset, expecting research utnuk mengetahui dimana letak penerimaan harga dari konsumen.
1.2  PERUMUSAN MASALAH
Sejalan dengan latar belakang di atas, ada suatu rumusan masalah yang harus dipecahkan, yaitu bagaimana menetapkan harga produk yang sesuai?
1.3  ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
. Dalam menetapkan harga yang sesuai seringkali perusahaan menghadapi banyak masalah. Hal ini dikarenakan konsumen yang sangat sensitif terhadap harga. Terutama perubahan harga. Harga dianggap sangat berpengaruh terhadap keputusan membeli oleh konsumen.
Secara garis besar dalam menetapkan harga yang sesuai,  perlu kita perhatikan yaitu bagaimana menetapkan posisi pasar (market positioning) dan menerapkan spektrum harga.
A.    Menetapkan posisi pasar (market positioning)
Dalam menetapkan posisi pasar, perusahaan harus mengetahui posisi produk yang akan ditawarkan kepada konsumen (khusunya kualitas produk). Salah satu perusahaan yang berhasil menetapkan strategi ini adalah perusahaan BASF yang disebutkan pada halaman sebelumnya. Keberhasilan BASF terletak pada penetapan positioning, dengan mengetahui posisi para pesaingnya. BASF menetapkan produknya sebagai kaset berkualitas dan bercitra tinggi di atas kaset yang sudah ada. Sehingga BASF menetapkan harga yang tinggi dalam mempromosikan produknya. Tetapi karena sadar tergolong sebagai pendatang baru, BASF memasang harga sedikit di bawah harga pesaing dengan cara diskon ke produsen rekaman sebesar 10%-15%. Setelah orang mengenal BASF perlahan diskon tersebut dihapus. Oleh karena itu, dengan mengetahui posisi pasar perusahaan akan tahu berapa harga yang sesuai untuk ditetapkan.


B.     Menerapkan spektrum harga
Setiap konsumen memiliki persepsi terhadap tingkat harga suatu produk. Persepsi ini dimulai dari harga terendah ke harga tertinggi yang bisa diterima, sehingga terbentuk spektrum harga. Selama harga suatu produk masih berada dalam spektrumnya, maka harga tersebut dianggap fair. Dan biasanya konsumen tidak menemukan problem apapun selama harga masih dianggap fair. Jika harganya di atas spektrum, produk tersebut dianggap terlalu mahal, sementara jika di bawah spektrum dianggap kualitasnya tidak memenuhi syarat. Menurut Ishak: adanya korelasi antara harga dan ingatan konsumen. “ Kalau harga cukup fair umumnya konsumen tidak akan ingat secara jelas berapa harga yang pernah ia bayar.”
Sebagai contoh dalam hal pembelian barang seperti tas, yang katakan harganya berkisar antara Rp 50-60 ribu. Apabila tas pilihannya berharga Rp 55 ribu, maka ia pun akan membeli tas tersebut tanpa berpikir panjang. Tapi apabila harga melewati Rp 60 ribu atau di bawahnya, maka ia pun akan berusaha mempertimbangkannya kembali atau bahkan ia tidak akan membelinya. Hal ini dikarenakan ada persepsi mengenai kualitas. Jika di bawah Rp 50 ribu ia merasakan produk tersebut tidak sesuai dengannya karena kualitas yang tidak seperti yang dikehendakinya. Sementara di atas harga Rp 60 ribu sudah di luar kesanggupannya, walaupun kualitasnya memenuhi syarat.
Oleh karena itu, jelas bahwa penetapan spektrum harga sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian oleh konsumen.
            Dalam persoalan harga, produsen harus berhati-hati dalam menerapkan kebijakan harga produk. Pertimbangan tidak bisa didasarkan pada kenaikan biaya produksi (Sanmaru), pajak (Crystal), memperbesar pangsa pasar, atau untuk menghadapi harga pesaing saja. Produsen harus lebih seksama lagi, yaitu dengan melakukan kajian tentang konsumen, pesaing, dan analisa struktur industri. Perusahaan juga harus bersikap proaktif, meneliti kebijakan harga setiap saat. Produsen tidak hanya sekedar menunggu dan menaikkan harga begitu harga lama tak tertahankan lagi, yang mungkin bisa saja dikarenakan margin keutungan turun atau pangsa pasar tergerogoti.
1.4  REKOMENDASI          
Cara-cara yang ditempuh BASF dan Indomie itulah yang disebut cara proaktif yang mempertimbangkan segala aspek dari sudut pandang konsumen. Proactive pricing, bisa menyebabkan sebuah produk menjadi pemimpin harga (price leader), meski ia bukan market leader. BASF, misalnya, menjadi pemimpin harga meski kini yang menguasai pasar kaset lagu Indonesia adalah HDX.
      Oleh sebab itu, dalam penetapan harga produsen harus mempertimbangkan banyak hal baik itu kebijakan-kebijakan pemerintah dan beberapa point yang tertera di atas.























REFERENSI
·         MANAJEMEN PEMASARAN EDISI KEENAM JILID 2.PHILIP KOTLER.ERLANGGA
·         PRINSIP-PRINSIP PEMASARAN EDISI KEDELAPAN JILID SATU.KOTLER&AMSTRONG.ERLANGGA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Analis Industri dan Pesaing

Langkah-langkah menganalisis pesaing ( Kotler ): – Mengidentifikasi pesaing – Menentukan sasaran pesaing – Mengidentifik...